Tridinews.com - Awal Januari 2026, militer Amerika Serikat (AS) sempat dikabarkan akan menyerang Iran. Namun hingga kini, ancaman tersebut belum terbukti.
Dalam sepekan terakhir, sejumlah media Barat ramai memberitakan pergerakan kapal induk dan jet tempur AS ke kawasan Timur Tengah. Salah satunya adalah USS Gerald R. Ford, kapal perang terbesar milik AS, yang kini berada di kawasan tersebut.
Langkah ini disebut-sebut sebagai sinyal kuat dari Presiden AS Donald Trump terhadap Iran. Namun media Iran menilai pengerahan kapal induk itu kerap bersifat rutin dan lebih ditujukan untuk memengaruhi jalannya negosiasi nuklir.
Negosiasi Nuklir Kembali Berlanjut
AS dan Iran dijadwalkan kembali bertemu di Jenewa, Swiss, pada 26 Februari 2026 untuk melanjutkan pembahasan kemungkinan kesepakatan nuklir. Pertemuan sebelumnya di Oman dilaporkan belum menghasilkan titik temu.
Washington tetap bersikeras agar program nuklir Iran dilucuti. Di sisi lain, kehadiran armada militer AS di kawasan dinilai bisa memengaruhi posisi tawar delegasi Iran di meja perundingan—apakah sebagai tekanan psikologis atau sekadar sinyal diplomatik.
Simbol Kekuatan atau Sinyal Perang?
Kapal induk AS selama ini dipandang sebagai simbol proyeksi kekuatan global. Pengerahan dua kapal induk sekaligus dinilai mengirim pesan pencegahan yang kuat dan mempertegas daya tawar AS.
Namun sejumlah analis menilai pengerahan ini lebih merupakan demonstrasi kekuatan dibanding persiapan serangan langsung. Misi kapal induk tersebut telah berlangsung lebih dari 240 hari, sehingga faktor kelelahan awak dan kesiapan tempur juga menjadi pertimbangan.
Respons Iran: Siap Bertahan, Tetap Diplomasi
Sejumlah pejabat tinggi Iran merespons pengerahan militer AS dengan pernyataan tegas, namun tetap membuka ruang dialog.
Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menegaskan negaranya tidak ingin memulai perang, tetapi siap jika dipaksa.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan diplomasi tidak akan efektif jika dibayangi ancaman militer. Ia juga menyebut Iran siap mengajukan draf tandingan dalam negosiasi.
Sementara itu, pejabat militer Iran menekankan kesiapan pertahanan, termasuk kemampuan rudal dan drone. Meski demikian, Iran menyatakan tidak berniat memulai konflik dan tetap memprioritaskan jalur diplomatik.
Faktor Penghalang Perang Terbuka
Para analis menilai ada sejumlah faktor yang membuat perang skala penuh kecil kemungkinan terjadi. Di antaranya biaya ekonomi dan militer yang besar bagi AS, potensi pembalasan Iran terhadap pangkalan dan kepentingan AS di kawasan, serta dampak terhadap pasar energi global.
Selain itu, pengalaman panjang konflik di Timur Tengah membuat Washington dinilai lebih berhitung dalam mengambil langkah militer besar.
Dengan demikian, pengerahan kapal perang AS lebih dilihat sebagai strategi tekanan dalam diplomasi ketimbang tanda dimulainya perang. Situasi di Teluk Persia dan Mediterania saat ini lebih mencerminkan adu kalkulasi kekuatan dan pengelolaan ketegangan di tengah negosiasi yang masih berlangsung.
Kapal Induk AS di Timur Tengah, Tekan Iran?
. (net)