Tridinews.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian yang sebelumnya diajukan Washington untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Trump menilai jawaban dari Teheran sama sekali tidak dapat diterima dan menegaskan ketidakpuasannya secara terbuka melalui pernyataan terbaru.
“I just read the response from the so-called ‘representatives’ of Iran. I don’t like it, not even a little bit, totally unacceptable,” kata Trump, Minggu (10/5).
Sebelumnya, Iran telah menyampaikan jawaban resmi atas proposal Amerika Serikat melalui mediator Pakistan.
Laporan kantor berita semi-resmi Tasnim menyebut proposal balasan Iran menekankan beberapa syarat utama, yakni pencabutan sanksi AS, penghentian blokade angkatan laut Amerika di Selat Hormuz setelah penandatanganan nota kesepahaman awal, serta jaminan bahwa tidak akan ada serangan baru terhadap Iran.
Selain itu, Iran juga meminta perang benar-benar diakhiri dengan perlindungan terhadap kedaulatan nasionalnya.
Amerika Serikat sebelumnya mengajukan proposal perdamaian sekitar sepekan lalu dalam bentuk nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin.
Dokumen itu bertujuan membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menjadi dasar pembicaraan lanjutan terkait program nuklir Iran.
Dalam proposal tersebut, AS meminta moratorium pengayaan nuklir Iran selama 20 tahun, pemindahan cadangan uranium yang sangat diperkaya atau Highly Enriched Uranium (HEU) ke luar negeri, kemungkinan ke AS, serta pembongkaran fasilitas nuklir Iran.
Namun menurut laporan Wall Street Journal, Iran hanya menawarkan moratorium dalam waktu lebih singkat, ekspor sebagian cadangan HEU, pengenceran sisa uranium, dan menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.
Perbedaan besar itulah yang diyakini menjadi alasan utama penolakan Trump.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump juga menulis pernyataan panjang di Truth Social dan menuduh Iran telah mempermainkan Amerika Serikat serta dunia selama 47 tahun.
Trump disebut berada di bawah tekanan besar untuk mempertahankan gencatan senjata dan mendorong kesepakatan damai sebelum kunjungannya ke China pekan ini.
China sendiri mendukung penghentian konflik serta pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi adalah nasib sekitar 440 kilogram uranium Iran yang telah diperkaya hingga kemurnian 60 persen, mendekati level senjata nuklir.
Selain itu, penghentian total pengayaan uranium juga menjadi tuntutan utama Washington.
Dalam wawancara dengan media pemerintah Iran, juru bicara militer Brigjen Akrami Nia mengatakan pihaknya telah siaga penuh untuk melindungi cadangan uranium tersebut.
“Kami menganggap ada kemungkinan mereka bermaksud mencurinya melalui operasi infiltrasi atau operasi menggunakan helikopter,” ujarnya.
Trump bahkan dilaporkan telah menerima opsi militer untuk merebut HEU Iran, meski operasi tersebut disebut membutuhkan banyak pasukan dan waktu berminggu-minggu.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran IRIB menilai proposal AS sama saja dengan memaksa Iran menyerah pada ambisi Trump.
Iran juga menegaskan tuntutan tambahan berupa ganti rugi perang dari AS, pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz, penghentian sanksi, serta pembebasan aset negara yang dibekukan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, harga minyak dunia langsung melonjak.
Patokan minyak internasional Brent crude naik 2,69 persen menjadi 104,01 dolar AS per barel pada Minggu malam.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,24 persen menjadi 98,51 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global jika konflik Iran dan Amerika Serikat kembali memburuk, terutama di jalur vital perdagangan energi dunia, Selat Hormuz.