Tribunnews.com – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh badan intelijen Israel, Mossad, berada di balik gelombang kekerasan selama unjuk rasa ekonomi di sejumlah wilayah Iran. Araghchi menyebut pola kekerasan tersebut terorganisasi dan bukan spontan, dengan tujuan memicu respons keras aparat serta memperburuk citra pemerintah.
Araghchi menekankan, beberapa polisi tewas dalam kondisi yang diduga eksekusi sengaja, dilakukan terhadap simbol negara dan aparat keamanan. Para pelaku diyakini bukan demonstran biasa, melainkan “teroris sungguhan” yang menjalankan misi spesifik.
Sorotan terhadap AS dan Pompeo
Araghchi juga mengkritik Amerika Serikat dan menyebut adanya standar ganda. Ia menyoroti unggahan mantan Menlu AS, Mike Pompeo, yang menyinggung keberadaan agen Mossad di Iran. Menurut Araghchi, pernyataan Pompeo memperkuat tuduhan Iran dan menunjukkan inkonsistensi klaim AS di ruang publik.
Menurut Menlu Iran:
“Di satu sisi, AS mendukung tindakan keras aparatnya sendiri dengan dalih pembelaan diri, namun di sisi lain mendesak negara lain termasuk Iran bersikap lunak terhadap perusuh.”
Presiden dan Pemimpin Tertinggi Iran sejalan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mendukung tuduhan Araghchi, menilai Amerika Serikat dan Israel memanfaatkan kelompok tertentu untuk menciptakan kekacauan dan ketidakstabilan. Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, memberi sinyal kesiapan pemerintah melakukan tindakan tegas terhadap protes domestik, meski AS memberikan peringatan.
Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, menyatakan siapapun yang ikut serta dalam demonstrasi bisa dianggap ‘musuh Tuhan’, yang dapat diancam hukuman mati sesuai hukum Iran.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa kekerasan dalam unjuk rasa bukan fenomena domestik semata, melainkan dipengaruhi kekuatan eksternal yang ingin mengguncang kestabilan nasional.
Menlu Iran Tuding Mossad Dalangi Kekerasan Demo, Singgung Standar AS
. (net)