Tridinews.com - Langkah politik luar negeri Perdana Menteri Kanada Mark Carney pada pekan ini menyita perhatian internasional, terutama di kawasan Amerika Utara. Carney dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke China pada Rabu (14/1/2026), yang menjadi kunjungan perdana pemimpin tertinggi Kanada ke Negeri Tirai Bambu setelah hampir satu dekade vakum.
Meski menuai sorotan, Carney memilih tidak mengungkapkan secara detail alasan di balik kunjungannya ke Beijing. Ia hanya menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk merespons gangguan perdagangan global yang belakangan berdampak pada perekonomian Kanada.
“Di saat terjadi gangguan perdagangan global, Kanada berfokus membangun ekonomi yang lebih kompetitif, berkelanjutan, dan mandiri,” ujar Carney dalam pernyataan resminya.
Pernyataan itu juga dibaca banyak pihak sebagai sindiran halus terhadap Amerika Serikat. Carney menegaskan bahwa Kanada tak bisa lagi bergantung pada satu mitra dagang saja dan perlu memperluas jejaring kerja sama global.
“Kami menjalin kemitraan baru di seluruh dunia untuk mengubah ekonomi kami dari ketergantungan pada satu mitra dagang tunggal,” katanya.
Dalam agenda kunjungannya, Carney dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden China Xi Jinping pada Jumat (16/1/2026), serta sejumlah pejabat tinggi Beijing. Pemerintah Kanada menyebut kunjungan ini sebagai upaya menghidupkan kembali kemitraan strategis yang sempat membeku dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, Ottawa menegaskan tidak akan ada keputusan instan terkait penghapusan tarif dagang tertentu, walaupun peluang kemajuan dalam pembahasan hambatan perdagangan tetap terbuka.
Di saat yang sama, dua anggota parlemen dari kubu Carney, Helena Jaczek dan Marie-France Lalonde, memutuskan mengakhiri kunjungan mereka ke Taiwan lebih awal. Langkah ini diambil untuk menghindari kesan ambigu terhadap kebijakan Kanada soal China selama Carney berada di Beijing. Kendati demikian, keduanya menegaskan bahwa posisi Kanada terkait Taiwan tidak berubah.
Keputusan tersebut menuai kritik dari oposisi. Michael Chong, juru bicara urusan luar negeri Partai Konservatif, menilai kunjungan Carney ke China sebagai bentuk ketundukan Kanada terhadap otoritarianisme Beijing.
Banyak analis menilai langkah Carney ini tak lepas dari memburuknya hubungan Kanada–Amerika Serikat sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS. Ketegangan kedua negara meningkat, termasuk akibat pernyataan Trump yang sempat melontarkan gagasan kontroversial menjadikan Kanada sebagai “negara bagian ke-51” AS.
Selain itu, kebijakan proteksionisme Trump dan penerapan tarif perdagangan dinilai mendorong Kanada mencari mitra alternatif. Akademisi China, Zhu Feng, menyebut kunjungan Carney mencerminkan peluang baru dalam hubungan China-Kanada di tengah tekanan perdagangan dari AS, meski ia mengingatkan bahwa Kanada tetap sekutu dekat Washington.
Carney sendiri baru menjabat kurang dari setahun menggantikan Justin Trudeau, dan mengikuti jejak sejumlah pemimpin Barat lain yang berupaya memperbaiki hubungan dengan Beijing, seperti Australia dan Inggris.
Hubungan Kanada dan China memang memiliki sejarah panjang ketegangan, terutama sejak penahanan eksekutif Huawei Meng Wanzhou pada 2018, yang berujung saling balas penahanan warga negara dan perang tarif. Setelah rentetan aksi saling balas itu, kunjungan Carney kali ini dipandang sebagai upaya memperbaiki hubungan yang retak.
Media pemerintah China menyambut kunjungan tersebut sebagai titik awal baru dan mendorong Kanada mencabut kebijakan tarif yang dianggap tidak masuk akal. Beijing berharap kunjungan ini dapat memperkuat momentum perbaikan hubungan bilateral.
Usai dari China, Carney dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Qatar sebelum menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pekan depan. Langkah ini menegaskan ambisi Carney untuk memosisikan Kanada sebagai pemain aktif dalam lanskap geopolitik dan ekonomi global yang kian dinamis.
PM Kanada Mark Carney Kunjungi China, Sinyal Jauh dari Bayangan AS?
. (net)