Operasi Epic Fury: Biaya Perang AS Tembus Rp569 T

operasi-epic-fury-biaya-perang-as-tembus-rp569-t . (net)

Tridinews.com - Ketegangan di Timur Tengah melonjak tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan keterlibatan langsung negaranya dalam operasi militer besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Dalam video berdurasi delapan menit yang diunggah di Truth Social, Trump menyatakan operasi tersebut bertujuan memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir. Pentagon kemudian memberi nama misi itu Operasi Epic Fury.

Ribuan Target Diserang

Mengutip laporan Al Jazeera, militer AS disebut telah menyerang lebih dari 1.250 target sejak hari pertama operasi.

United States Central Command (CENTCOM) mengklaim menghancurkan 11 kapal Iran serta menyerang fasilitas nuklir, infrastruktur militer, hingga tokoh senior pertahanan Iran.

Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 555 orang tewas di 130 lokasi hingga 2 Maret 2026. Sementara itu, laporan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas setelah kompleks kediamannya di Teheran dihantam gelombang pertama serangan.

Trump mengisyaratkan operasi bisa berlangsung empat hingga lima minggu, bahkan lebih lama jika diperlukan.

Biaya Perang Membengkak

Laporan Costs of War 2025 dari Brown University mencatat, sejak 7 Oktober 2023, AS telah menggelontorkan 21,7 miliar dolar AS (sekitar Rp366 triliun) untuk bantuan militer ke Israel.

Selain itu, pembayar pajak AS juga menanggung sekitar 12,07 miliar dolar AS (Rp203 triliun) untuk operasi militer di Yaman, Iran, dan kawasan Timur Tengah lainnya.

Total pengeluaran konflik di kawasan tersebut mencapai sekitar Rp569,7 triliun—angka yang hampir setara 20 persen APBN Indonesia tahun berjalan.

Bahkan, menurut Anadolu Agency, AS menghabiskan sekitar 779 juta dolar AS hanya dalam 24 jam pertama Operasi Epic Fury. Persiapan awal sebelum serangan diperkirakan menelan tambahan 630 juta dolar AS.

Sistem Senjata yang Dikerahkan

Operasi ini melibatkan lebih dari 20 sistem persenjataan lintas matra.

Kekuatan udara mencakup pembom B-1 dan B-2, jet tempur F-35 dan F-22, F-15, F-16, F/A-18, A-10, serta EA-18G Growler untuk perang elektronik.

Untuk serangan jarak jauh digunakan drone LUCAS dan MQ-9 Reaper, sistem roket HIMARS, serta rudal jelajah Tomahawk.

Di sisi pertahanan, sistem Patriot dan THAAD diaktifkan untuk menangkal serangan balasan.

Dari laut, dua kelompok kapal induk dipimpin USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln dikerahkan untuk proyeksi kekuatan.

Menurut analisis Center for New American Security, biaya operasional satu kelompok kapal induk seperti USS Gerald R. Ford bisa mencapai 6,5 juta dolar AS per hari.

Tantangan Bukan Sekadar Uang

Christopher Preble dari Stimson Center menilai terlalu dini menghitung total biaya perang. Namun, ia menekankan bahwa tantangan terbesar bukan pada anggaran—karena anggaran pertahanan AS hampir satu triliun dolar per tahun—melainkan pada ketersediaan stok rudal pencegat.

Produksi sistem kompleks seperti Patriot atau SM-6 tidak bisa dilakukan secara massal dalam waktu singkat. Sementara sebagian stok juga dialokasikan untuk Ukraina dan kawasan Indo-Pasifik.

Jika konflik berlarut-larut, tekanan terhadap rantai pasok senjata AS diperkirakan bisa menjadi persoalan yang lebih serius dibandingkan sekadar beban biaya finansial.

Di tengah eskalasi yang belum menunjukkan tanda mereda, dunia kini menanti: seberapa lama Operasi Epic Fury akan berlangsung, dan berapa mahal harga yang harus dibayar.

Editor: redaktur

Komentar