Tridinews.com - Bank Indonesia menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami banyak negara berkembang lainnya di tengah tekanan global yang terus meningkat.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih relatif sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market.
Menurutnya, tekanan utama datang dari ketidakpastian geopolitik global, terutama konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung terhadap harga energi dan arus modal internasional.
“Indonesia Rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won melemah 2,29 persen,” kata Erwin, Selasa (5/5/2026).
Ia membandingkan pelemahan rupiah dengan sejumlah mata uang negara lain yang justru mengalami tekanan lebih besar. Philippine Peso tercatat melemah 6,58 persen, Thailand Baht turun 5,04 persen, India Rupee melemah 4,32 persen, dan Chile Peso turun 4,24 persen.
Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah bahkan tercatat memimpin pelemahan di kawasan bersama ringgit Malaysia.
Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.403 per dolar AS atau melemah sekitar 0,22 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.365 per dolar AS.
Sementara itu, ringgit Malaysia turun 0,25 persen ke level 3,96 per dolar AS, sedangkan peso Filipina melemah 0,23 persen menjadi 61,707 per dolar AS.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI memastikan akan terus aktif melakukan intervensi di pasar keuangan.
Erwin menjelaskan, langkah intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing agar mekanisme pasar berjalan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai nilai fundamentalnya,” ujarnya.
NDF sendiri merupakan kontrak derivatif valuta asing berjangka yang penyelesaiannya dilakukan secara tunai berdasarkan selisih kurs tanpa pertukaran fisik mata uang utama.
Sementara DNDF merupakan instrumen lindung nilai risiko kurs di pasar domestik yang penyelesaiannya juga dilakukan secara netting dalam rupiah.
Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai posisi rupiah saat ini masih cukup rapuh meski peluang penguatan tetap terbuka jika tekanan global mulai mereda.
“Arah rupiah pekan ini masih rapuh dan cenderung bergerak dalam kisaran lemah, meskipun ada peluang penguatan terbatas jika harga minyak dan dolar Amerika menurun,” kata Josua.
Ia memperkirakan rupiah dalam sepekan ke depan bergerak di rentang Rp17.250 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Namun, risiko pelemahan lanjutan masih terbuka, terutama jika harga minyak kembali naik di atas 110 hingga 115 dolar AS per barel dan indeks dolar AS kembali menguat.
Bahkan, Josua menilai rupiah masih berpotensi menguji level terlemah baru jika tekanan global semakin besar.
Sebaliknya, jika harga minyak turun lebih konsisten, dolar AS melemah, dan jalur diplomasi internasional menunjukkan hasil positif, rupiah berpeluang menguat terbatas ke kisaran Rp17.200 per dolar AS.
Untuk akhir Mei 2026, ia memproyeksikan rupiah berada di rentang Rp17.200 hingga Rp17.450 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp17.300.
Menurut Josua, ada empat faktor utama yang saat ini menekan rupiah, yakni lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah, arah suku bunga AS yang lebih ketat, tekanan fiskal domestik akibat subsidi energi, serta tingginya kebutuhan dolar untuk impor dan repatriasi dividen.
Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap defisit transaksi berjalan dan belum pulihnya arus modal asing juga memperberat tekanan terhadap rupiah.
Data BI mencatat pada kuartal I 2026, investor asing masih melakukan arus keluar bersih sekitar 1,78 miliar dolar AS dari pasar domestik, meski instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatat arus masuk.
BI: Rupiah Melemah, Masih Sejalan dengan Mata Uang Emerging Market
. (net)