Tridinews.com - Harga minyak dunia meroket setelah sedikitnya tiga kapal diserang di sekitar Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas global.
Serangan itu terjadi di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Dua kapal dilaporkan terkena proyektil, sementara satu kapal lainnya mengalami ledakan sangat dekat dari “proyektil tak dikenal”, menurut laporan UK Maritime Trade Operations (UKMTO).
Iran sebelumnya telah memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintasi selat tersebut. Akibat situasi ini, aktivitas pelayaran internasional nyaris terhenti di pintu masuk perairan strategis tersebut.
Pada perdagangan pagi di Asia, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 7% ke level US$78,25 per barel, sedangkan minyak mentah AS naik 7,3% menjadi US$71,93 per barel.
Saul Kavonic dari MST Research mengatakan pasar masih menunggu kepastian apakah lalu lintas di Selat Hormuz dapat kembali normal. Jika situasi membaik, harga minyak berpotensi turun. Namun sejumlah analis memperingatkan harga bisa menembus US$100 per barel jika konflik berkepanjangan.
Kelompok produsen minyak OPEC+, yang mencakup Arab Saudi dan Rusia, telah sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk meredam lonjakan harga. Meski begitu, beberapa pakar menilai langkah tersebut mungkin belum cukup mengimbangi gangguan distribusi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim tiga kapal tanker milik Inggris dan AS terkena rudal dan terbakar. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari London maupun Washington.
UKMTO juga mencatat adanya beberapa insiden keamanan di Teluk Arab dan Teluk Oman, serta mengimbau kapal-kapal agar melintas dengan sangat hati-hati.
Platform pelacakan kapal Kpler menyebut sedikitnya 150 kapal tanker kini berlabuh di perairan sekitar Teluk, menunggu situasi lebih aman. Analis Kpler, Homayoun Falakshahi, mengatakan ancaman yang meningkat membuat selat tersebut secara efektif tertutup, dengan biaya asuransi kapal melonjak tajam.
Di tengah ketegangan ini, perusahaan pelayaran Denmark Maersk mengumumkan penghentian sementara pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez, serta mengalihkan rute kapal mengitari Tanjung Harapan.
Perkembangan terbaru ini memperbesar kekhawatiran akan gangguan distribusi energi global. Para analis menilai besarnya dan lamanya kenaikan harga minyak sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik di kawasan tersebut.
Harga Minyak Melonjak Usai Serangan Dekat Hormuz
. (net)