Ekonomi RI 5,61 Persen, APINDO Minta Pertumbuhan Serap Tenaga Kerja

ekonomi-ri-561-persen-apindo-minta-pertumbuhan-serap-tenaga-kerja . (net)

Tridinews.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen mendapat sorotan dari kalangan pengusaha. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Bob Azam, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang baik tidak cukup hanya dilihat dari angka persentase semata, tetapi harus mampu menciptakan lapangan kerja yang nyata bagi masyarakat.

Angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen tersebut meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang berada di level 5,39 persen. Pemerintah menilai capaian ini menjadi sinyal positif karena ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, belanja negara, serta ekspor yang tetap berjalan di tengah tekanan ekonomi global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menyebut pertumbuhan tersebut menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat dan terus bertumbuh secara signifikan.

Namun, Bob Azam menilai kualitas pertumbuhan ekonomi jauh lebih penting dibanding sekadar angka statistik.

“Sebenarnya kan sudah lama kita bilang, kita ingin pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Jadi bukan hanya numbers, tapi juga dampaknya, termasuk juga penyerapan tenaga kerja. Jadi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas itu yang bisa menyerap tenaga kerja,” kata Bob, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, perhatian utama seharusnya diarahkan pada bagaimana ekonomi mampu membuka lebih banyak peluang kerja baru, bukan hanya fokus pada isu pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ia juga meminta publik tidak berlebihan dalam menyikapi PHK karena menurutnya PHK dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari langkah efisiensi perusahaan agar tetap bertahan.

“Kita jangan sampai overacting ya menghadapi PHK, padahal PHK itu sebenarnya mekanisme dalam rangka untuk mencapai efisiensi, dalam rangka untuk mempertahankan perusahaan supaya enggak tenggelam semuanya,” ujarnya.

Bob menambahkan, yang lebih penting adalah memastikan pekerja yang terkena PHK mendapatkan perlindungan dan peluang kerja baru secepat mungkin.

“Nah, justru PHK itu harus kita mitigasi dengan bagaimana memberikan perlindungan kepada mereka yang di PHK, mempersiapkan pekerjaan-pekerjaan baru ke depan bagi yang PHK supaya setelah di-PHK mereka bisa dalam waktu singkat mendapatkan pekerjaan baru,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa sektor manufaktur menjadi sektor paling strategis karena memiliki daya serap tenaga kerja terbesar sekaligus kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

“Di mana sektor manufaktur adalah sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan paling banyak kontribusi terhadap perekonomian negara,” ucap Bob.

Karena itu, APINDO meminta pemerintah memberi perhatian lebih besar terhadap sektor manufaktur agar pertumbuhan ekonomi benar-benar memberikan dampak luas bagi masyarakat.

“Perhatian terhadap sektor manufaktur ini harus lebih banyak lagi ya yang diberikan oleh pemerintah karena daya ungkitnya dan multiplier effect-nya yang cukup besar ya kepada ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M. Rizal Taufikurahman. Ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini belum sepenuhnya dirasakan masyarakat secara merata, khususnya kelas menengah dan sektor riil.

Menurut Rizal, konsumsi rumah tangga memang masih menjadi penopang utama, tetapi banyak dipengaruhi faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, THR, hingga percepatan belanja pemerintah.

Ia menilai fundamental ekonomi masih menghadapi tantangan seperti tekanan fiskal, pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga dominasi sektor informal dalam ketenagakerjaan.

“Sebagian masyarakat bahkan menjaga konsumsi melalui tabungan dan pinjaman online karena pendapatan belum sepenuhnya pulih,” ungkap Rizal.

Karena itu, para ekonom berharap pemerintah tidak hanya mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi juga fokus pada investasi produktif, penguatan manufaktur, ekspor bernilai tambah, dan penciptaan lapangan kerja formal yang berkelanjutan.


Editor: redaktur

Komentar