Tridinews.com - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuduh Uni Emirat Arab (UEA) mendukung dan bekerja sama dengan pihak-pihak yang disebut sebagai agresor terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan Baghaei dalam konferensi pers mingguan pada Senin (4/5/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ia menilai tindakan UEA tersebut telah menimbulkan banyak persoalan, bukan hanya bagi Iran tetapi juga terhadap stabilitas keamanan regional.
“Dukungan dan kerja sama UEA dengan para agresor terhadap Iran telah menciptakan banyak masalah, tidak hanya bagi Iran, tetapi juga bagi keamanan kawasan dan solidaritas antarnegara di kawasan,” ujar Baghaei.
Ia juga berharap seluruh negara di Timur Tengah dapat mengambil pelajaran dari perkembangan situasi selama 50 hari terakhir, terutama terkait meningkatnya konflik dan ketegangan antarnegara di kawasan.
Selain menyoroti isu politik dan keamanan, Baghaei turut mengomentari keputusan UEA yang resmi keluar dari OPEC serta aliansi OPEC+.
Menurutnya, langkah Abu Dhabi tersebut bukan keputusan yang konstruktif dan justru mencerminkan reaksi negatif atau bentuk balas dendam terhadap kawasan serta negara-negara anggota OPEC lainnya.
OPEC sendiri didirikan pada 1960 oleh Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela untuk mengoordinasikan kebijakan produksi minyak dunia serta menjaga stabilitas pasar energi global.
Pada akhir April lalu, UEA mengumumkan akan menarik diri dari OPEC dan OPEC+ efektif mulai 1 Mei 2026. Dengan keluarnya UEA, jumlah anggota OPEC kini tersisa 11 negara. Sementara OPEC+ masih mencakup tambahan 10 negara produsen non-OPEC.
Keputusan UEA keluar dari OPEC dinilai menjadi salah satu perubahan besar dalam dinamika energi global, terutama di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di kawasan Teluk dan ketegangan di Selat Hormuz.
Iran Tuduh UEA Dukung Agresor, Kritik Keputusan Keluar dari OPEC
. (net)