Acuhkan Trump, India tingkatkan ekspor minyak dari Rusia

acuhkan-trump-india-tingkatkan-ekspor-minyak-dari-rusia . (net)

Tridinews.com - - Ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terhadap India yang terus mengekspor minyak mentah dari Rusia sepertinya sudah tak digubris lagi oleh pemerintahan Narendra Modi.

Sumber anonim dari Reuters dalam laporan eksklusifnya menyebut hal ini terlihat dari upaya terbaru India yang kabarnya justru akan meningkatkan ekspor minyak dari Rusia pada September 2025 mendatang.

Tiga sumber perdagangan yang terlibat dalam penjualan minyak ke India menyatakan kepda Reuters bahwa sejumlah perusahaan penyulingan ,inyak di India akan meningkatkan pembelian dari Rusia pada September sebesar 10–20 persen dibanding Agustus, atau 150.000–300.000 barel per hari.

Kementerian Energi India sendiri belum mau merespons permintaan komentar Reuters pada Kamis (28/8/2025) terkait rumor tersebut. 

Sementara itu, dua pembeli terbesar minyak Rusia untuk India, Reliance dan Nayara Energy (yang mayoritasnya juga dimiliki Rusia), belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Peningkatan ekspor Rusia pada September ini didorong oleh gangguan operasional penyulingan akibat serangan Ukraina terhadap 10 fasilitas penyulingan Rusia, yang menonaktifkan 17 persen kapasitas pengolahan negara tersebut.

Menurut analisis Vortexa, dalam 20 hari pertama Agustus 2025, India mengimpor 1,5 juta barel per hari minyak mentah Rusia,

Angka tersebut menunjukkan kestabilan dibandingkan data dari bulan Juli namun sedikit di bawah rata-rata 1,6 juta barel per hari pada periode Januari–Juni.

Volume ini setara 1,5 persen pasokan minyak global, menjadikan India pembeli terbesar minyak mentah Rusia yang diangkut laut—memenuhi 40% kebutuhan minyak India.

China dan Turki juga menjadi pembeli utama minyak Rusia.

India sendiri menjadi pembeli terbesar pasokan minyak Rusia yang selama ini menerima sanksi embargo dari negara-negara Barat setelah Moskow menginvasi Ukraina pada 2022. 

Melalui kesepakatan ini, kedua pihak menemumkan simbiosis mutualisme lantaran Rusia masih dapat menerima pemasukan besar dari India dan sebaliknya perusahaan penyuling minyak dari negeri Bollywood tersebut dapat memperoleh keuntungan lebih dari minyak mentah yang harganya lebih murah.

Langkah ini seolah menujnjukkan ketidakpedulian India atas kecaman dari pemerintah Presiden AS Donald Trump, yang pada Rabu (27/8/2025) meningkatkan tarif impor ke New Delhi menjadi 50 persen. 

Pemerintah India sendiri menyatakan akan berupaya menyelesaikan masalah tarif tambahan yang diberikan Trump melalui pembicaraan diplomatik.

Namun di waktu yang sama, Perdana Menteri Narendra Modi justru memperkuat hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pejabat AS menuduh India mencari keuntungan berlebihan dari minyak Rusia berdiskon, sedangkan pejabat India menuding negara-negara Barat menerapkan standar ganda karena Uni Eropa dan AS masih membeli barang Rusia senilai miliaran dolar.


Langkah Pembelian Minyak Rusia oleh India

Peningkatan pembelian minyak Rusia oleh India dalam beberapa tahun terakhir telah mengurangi ketergantungan pada pasokan minyak mahal dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Pangsa OPEC sendiri naik tipis pada 2024 setelah delapan tahun penurunan.

Menurut tiga sumber Reuters yang terlibat dalam perdagangan minyak di India, eksportir dari Rusia menjual minyak mentah Urals untuk pengiriman September dengan diskon $2–$3 per barel dari patokan Brent, lebih rendah dibanding diskon $1,50 per barel pada Agustus—yang menjadi diskon terkecil sejak 2022.

"Kecuali India mengeluarkan kebijakan jelas atau terjadi perubahan signifikan dalam ekonomi perdagangan, minyak mentah Rusia kemungkinan tetap menjadi bagian inti bauran pasokan India," kata Sumit Ritolia dari Kpler.

Perusahaan sekuritas CLSA juga memprediksi peluang terbatas India menghentikan impor minyak Rusia kecuali diberlakukan larangan global, bukan dari AS saja.

Jika impor dihentikan, dampaknya bisa mengurangi pasokan global sekitar satu juta barel per hari dan mendorong kenaikan harga minyak jangka pendek hingga mendekati $100 per barel.

Para pedagang menyebut dampak penuh sanksi dan tarif mungkin baru terlihat pada kargo yang tiba di India pada Oktober 2025.

Selain tarif AS, Uni Eropa juga memperketat batas harga minyak Rusia menjadi $47,60 per barel mulai 2 September—15% di bawah harga pasar—untuk membatasi akses layanan Barat bagi transaksi di atas batas tersebut.

Langkah ini diperkirakan mempersulit penjualan minyak Rusia pada akhir tahun, meski India tetap menjadi mitra kunci dalam mempertahankan aliran pendapatan energi Kremlin.


Editor: redaktur

Komentar