Fenomena ‘Manusia Tikus’ di Tiongkok Picu Kekhawatiran Global

fenomena-manusia-tikus-di-tiongkok-picu-kekhawatiran-global . (net)

Tridinews.com - Fenomena baru bernama “manusia tikus” tengah menjadi perbincangan besar di Tiongkok. Istilah yang viral di media sosial itu telah ditonton lebih dari dua miliar kali dan menggambarkan sekelompok anak muda yang memilih hidup menarik diri: bangun siang, berbaring seharian, memainkan ponsel tanpa tujuan, memesan makanan online, dan menghindari interaksi sosial.

Gaya hidup itu membuat mereka kerap disamakan dengan “tikus”—makhluk yang hidup di tempat gelap, menyendiri, dan tak punya arah. Meme dan konten terkait “manusia tikus” bertebaran di TikTok, Weibo, hingga berubah menjadi barang dagangan populer.

Salah satu unggahan yang sempat menghebohkan publik adalah foto seorang gadis di Zhejiang yang membagikan jadwal hariannya yang hanya berisi aktivitas berbaring. Unggahan sederhana itu sontak memicu diskusi luas, terutama karena terjadi di tengah situasi ekonomi Tiongkok yang sedang tidak baik-baik saja.

Pada April 2025, tingkat pengangguran kaum muda mencapai 15,8 persen—angka yang mengkhawatirkan mengingat jumlah lulusan universitas tahun ini diperkirakan menembus 12,22 juta orang. Lapangan pekerjaan terbatas, persaingan tinggi, sementara gaji tidak sebanding dengan biaya hidup yang terus melonjak.

Tekanan hidup di Tiongkok tidak terlepas dari budaya pendidikan dan dunia kerja yang sangat kompetitif. Sejak remaja, pelajar dipacu belajar hingga 12–14 jam per hari demi menembus universitas ternama. Setelah lulus, mereka kembali menghadapi budaya kerja “996”—bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam, enam hari seminggu.

Namun semua upaya keras itu sering kali tidak berbuah manis. Gelar tidak menjamin pekerjaan, sementara harga rumah di kota besar seperti Beijing dan Shanghai begitu tinggi sehingga mimpi untuk menikah, memiliki anak, atau tinggal di rumah sendiri terasa semakin jauh.

Kesenjangan antara harapan dan kenyataan melahirkan keputusasaan baru. Banyak anak muda akhirnya menarik diri dari masyarakat, memilih menjadi “bayangan” dalam kehidupan modern.

Fenomena Global, Bukan Hanya Tiongkok

Fenomena serupa ternyata terjadi di banyak negara.

Di Jepang, kelompok “hikikomori” sudah dikenal selama puluhan tahun—lebih dari satu juta orang menarik diri dari kehidupan sosial dan menghabiskan hari-hari hanya di dalam kamar.

Di Korea Selatan, generasi “sampo” menyerah pada hubungan, pernikahan, dan memiliki anak karena biaya hidup yang tinggi dan tekanan karier yang ekstrem.

Di Barat, tren serupa juga meningkat. Di Inggris, jumlah pemuda usia 20–24 tahun yang terisolasi dari pendidikan, pekerjaan, dan pelatihan melonjak dua kali lipat dalam satu dekade. Angka yang sama juga naik di AS, Kanada, dan Jerman.

Di Indonesia, fenomena ini muncul dengan sebutan populer “kaum rebahan”—mereka yang malas beraktivitas dan lebih memilih menghabiskan waktu di kamar.

Pandemi COVID-19 memperkuat tren ini. Gerakan seperti “quiet quitting” dan “minimum Mondays” merebak di Barat saat banyak orang mulai menolak beban kerja berlebihan demi kesehatan mental.

Dampaknya Sangat Luas

Fenomena ini bukan hanya soal gaya hidup, tetapi isu besar yang berpotensi mengguncang ekonomi global. Jutaan anak muda yang tidak bekerja, tidak kuliah, dan tidak terlatih berarti hilangnya tenaga kerja produktif di masa depan.

Negara-negara seperti Tiongkok dan Korea Selatan menghadapi risiko ganda: angka kelahiran yang menurun drastis dan generasi muda yang menolak terjun ke pasar kerja. Bila tren ini berlanjut, krisis populasi dan kekurangan talenta akan menjadi ancaman serius.

Dari sisi kesehatan mental, semakin banyak anak muda menghadapi depresi, kecemasan, gangguan makan, hingga pikiran untuk bunuh diri. Sistem layanan kesehatan mental di banyak negara pun belum siap menangani lonjakan ini.

Advita Patel, Presiden Royal Institute of Public Relations (Inggris), menyebut fenomena ini sebagai bentuk “protes diam-diam” generasi muda terhadap dunia yang keras.

“Mereka tidak menyerah,” katanya, “mereka hanya menolak ikut bermain dalam sistem yang tidak memberi mereka kesempatan.”

Tanpa perubahan besar dalam sistem pendidikan, ekonomi, dan pasar kerja global, fenomena “manusia tikus” bukan sekadar tren viral—melainkan krisis generasional yang tengah berkembang di abad ke-21.

Editor: redaktur

Komentar