Tridinews.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa setiap kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran harus mencakup pemindahan seluruh pasokan uranium yang telah diperkaya dari wilayah Iran.
Pernyataan itu disampaikan menjelang putaran kedua perundingan nuklir AS–Iran yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, Selasa (17/2/2026). Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah bertolak ke Jenewa untuk menghadiri perundingan tersebut.
Tiga Syarat Israel
Dalam pidatonya di Yerusalem, Netanyahu menyebut ada tiga elemen utama yang harus ada dalam kesepakatan:
Seluruh material uranium yang diperkaya harus dibawa keluar dari Iran.
Iran tidak boleh memiliki kemampuan pengayaan uranium, termasuk pembongkaran peralatan dan infrastruktur terkait.
Program rudal balistik Iran harus diselesaikan.
Ia juga menekankan pentingnya inspeksi berkelanjutan dan efektif terhadap program nuklir Iran, bukan sekadar inspeksi awal atau simbolis.
Sikap AS dan Ketegangan Regional
Laporan media AS menyebut Presiden Donald Trump pernah menyampaikan kepada Netanyahu bahwa Washington akan mendukung serangan Israel terhadap program rudal balistik Iran jika diplomasi gagal mencapai kesepakatan.
Ketidakpastian juga menyelimuti nasib lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya Iran hingga level 60 persen. Persediaan tersebut terakhir diperiksa oleh pengawas nuklir pada Juni tahun lalu, sebelum serangan Israel dan AS ke sejumlah situs nuklir Iran.
Perundingan terbaru ini melanjutkan dialog yang sebelumnya dimulai di Muscat, Oman, pada 6 Februari lalu, setelah sempat terhenti akibat eskalasi konflik pada pertengahan 2025.
Dengan meningkatnya ketegangan dan pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah, hasil perundingan di Jenewa dipandang krusial bagi stabilitas kawasan dan masa depan program nuklir Iran.
Netanyahu: Uranium Diperkaya Harus Dipindahkan dari Iran
. (net)