Tridinews.com - Sirkuit Internasional Chang, Buriram, menjadi panggung lahirnya sejarah baru bagi balap motor Indonesia. Pada seri pembuka Moto3 musim 2026, Minggu (1/3), pembalap muda Tanah Air, Veda Ega Pratama, resmi menjalani debutnya di level Grand Prix—dan langsung mencuri perhatian dunia.
Bukan sekadar tampil, remaja 17 tahun asal Gunungkidul itu finis di posisi kelima. Ini menjadi pencapaian terbaik pembalap Indonesia di kelas Moto3 sepanjang sejarah.
Bukan Sekadar Keberuntungan
Membela Honda Team Asia, Veda tampil meyakinkan sejak sesi latihan bebas. Pada FP1, ia mencatat waktu 1 menit 41,854 detik dan menempati posisi keenam. Catatannya terus membaik menjadi 1 menit 41,508 detik, cukup untuk mengamankan tiket langsung ke Q2 tanpa harus melewati Q1.
Di sesi kualifikasi kedua, Sabtu (28/2), Veda sempat menempati posisi ketiga sebelum akhirnya mengunci waktu terbaik 1 menit 40,877 detik. Ia start dari grid kelima, hanya terpaut 0,789 detik dari pole sitter, David Almansa.
Start dari baris kedua di balapan debut adalah pernyataan tegas: Veda datang bukan untuk belajar, tapi untuk bersaing.
Duel Ketat dan Mental Baja
Saat lampu start padam, tekanan langsung terasa. Veda sempat tercecer ke posisi ketujuh di lap-lap awal. Namun alih-alih panik, ia menunjukkan kedewasaan balap yang jarang dimiliki rookie.
Memasuki lap ketujuh hingga kesembilan, ia mulai menyerang. Manuver overtake dilakukan bersih dan terukur di tikungan sempit Buriram. Ia kembali masuk rombongan depan dan terlibat duel sengit dengan pembalap seperti Alvaro Carpe dan Adrian Fernandez.
Beberapa kali Veda bahkan menyentuh posisi ketiga alias zona podium. Namun pengalaman para senior berbicara di lap terakhir. Almansa keluar sebagai pemenang dengan waktu 32 menit 14,186 detik, unggul tipis 0,003 detik atas Maximo Quiles.
Veda finis kelima dengan selisih 9,687 detik dari pemenang dan membawa pulang 11 poin penting untuk klasemen awal musim.
Fondasi Panjang Sejak Kecil
Keberhasilan di Buriram bukan hasil instan. Perjalanan Veda dimulai dari lintasan sederhana di Pasar Hewan Siyonoharjo, Gunungkidul, saat ia berusia enam tahun, dibimbing sang ayah, Sudarmono, mantan pembalap nasional.
Kariernya menanjak cepat. Pada 2023, ia menjuarai Asia Talent Cup dengan sembilan kemenangan dari 12 balapan—menjadi pembalap Indonesia pertama yang merebut gelar tersebut.
Di level lebih tinggi, Veda tampil konsisten di Red Bull MotoGP Rookies Cup. Setelah finis kedelapan pada 2024, ia menjadi runner-up musim 2025 dengan 181 poin dan tiga kemenangan, hanya kalah dari Brian Uriarte, serta unggul atas Hakim Danish.
Performa itulah yang membawanya promosi ke Moto3 musim 2026.
Mulai Dilirik Tim Besar
Debut impresif ini membuat nama Veda ramai dibicarakan di paddock. Direktur Pemasaran dan Komersial Gresini Racing, Carlo Merlini, bahkan menyebut Veda sebagai talenta Asia paling kuat saat ini.
Pembalap MotoGP Alex Marquez juga memberikan pujian atas performanya. Rumor kedekatan manajemen Veda dengan Gresini pun mulai berembus, memunculkan spekulasi soal masa depan cerah di keluarga besar Ducati.
Namun bagi Veda, fokusnya tetap satu.
“Saya ingin jadi pembalap Indonesia pertama di MotoGP dan menjadi juara dunia,” ucapnya dalam sebuah wawancara.
Debut di Buriram hanyalah langkah awal. Tapi dari satu balapan itu, dunia sudah melihat: Indonesia kini punya penantang serius di panggung Grand Prix.
Debut Sensasional Veda, Finis 5 di Moto3 Buriram
. (net)