Tridinews.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan langkah antisipasi pemerintah menghadapi ancaman penyebaran Hantavirus Pulmonary Syndrome yang sebelumnya terdeteksi di kapal pesiar HM Hondius di Samudra Atlantik.
Menurut Budi, pemerintah telah berkoordinasi dengan World Health Organization (WHO) untuk memperoleh panduan penanganan serta sistem skrining terhadap virus tersebut.
“Info dari WHO bahwa virus ini masih terkonsentrasi di kapal tersebut, belum menyebar ke mana-mana,” kata Budi saat ditemui di kantor Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di kawasan Kuningan, Kamis (7/5).
Ia menjelaskan hantavirus merupakan virus yang cukup berbahaya sehingga langkah antisipasi dini perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran di Indonesia.
Pemerintah kini tengah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk mendukung deteksi dini, termasuk kemungkinan penggunaan rapid test dan reagen khusus untuk pemeriksaan PCR.
“Di Indonesia beruntung sekarang kan mesin PCR sudah banyak. Harusnya bisa lebih mudah untuk mendeteksi virus ini,” ujarnya.
Meski demikian, Budi mengakui reagen khusus untuk mendeteksi hantavirus masih terbatas dan belum tersedia secara luas. Karena itu, pemerintah saat ini lebih memfokuskan langkah pada penguatan surveillance atau pengawasan kesehatan.
“Sekarang kita masih fokus ke surveillance supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat,” katanya.
WHO sebelumnya telah mengeluarkan panduan pencegahan penyebaran hantavirus setelah kasus terdeteksi di kapal pesiar HM Hondius. Organisasi tersebut menekankan pentingnya deteksi dini, pelaporan cepat, serta penguatan surveilans dan koordinasi lintas sektor.
WHO meminta awak kapal dan tenaga medis memantau kondisi kesehatan penumpang hingga 45 hari setelah paparan. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam, nyeri otot, kelelahan, hingga gangguan pernapasan.
Penumpang yang mengalami gejala dianjurkan segera melapor dan melakukan isolasi mandiri.
Selain itu, WHO juga merekomendasikan penerapan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker saat sakit, menjaga ventilasi ruangan, menerapkan etika batuk, serta membersihkan lingkungan dengan metode basah untuk mengurangi risiko paparan dari kotoran tikus.
Diagnosis hantavirus dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium seperti ELISA dan RT-PCR. Hingga kini, belum tersedia obat antivirus khusus untuk hantavirus sehingga penanganan difokuskan pada perawatan suportif, termasuk bantuan pernapasan dan perawatan intensif bagi pasien dengan gejala berat.
WHO juga mengimbau masyarakat untuk menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya serta menjaga kebersihan lingkungan, terutama saat beraktivitas di wilayah endemik.
Menkes Budi Beberkan Kesiapan RI Hadapi Ancaman Hantavirus
. (net)