Tridinews.com - Pemerintah Indonesia memastikan pasokan energi nasional tetap aman meski konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu ketidakpastian di kawasan Timur Tengah. Salah satu langkah mitigasi yang dilakukan adalah mengamankan sumber energi dari luar kawasan tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia telah menyiapkan sejumlah alternatif pasokan energi melalui kerja sama perdagangan internasional.
“Kalau dari segi energi, karena kebetulan kita sudah tanda tangan ART (Agreement of Reciprocal Trade), memang suplai energi kita juga sudah melakukan MoU dengan Amerika Serikat dan juga PT Pertamina punya akses di Venezuela,” kata Airlangga dalam konferensi pers Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis.
Pemerintah belajar dari krisis energi sebelumnya
Airlangga menjelaskan pemerintah terus memantau perkembangan situasi global yang sulit diprediksi. Menurutnya, Indonesia kini lebih siap menghadapi gejolak energi setelah belajar dari lonjakan harga energi akibat konflik antara Rusia dan Ukraina beberapa waktu lalu.
Ia menilai kondisi global saat ini memiliki dua sisi bagi perekonomian nasional. Di satu sisi, pemerintah harus memastikan subsidi energi tetap terjaga agar tidak membebani masyarakat.
Namun di sisi lain, kenaikan harga komoditas energi justru dapat meningkatkan penerimaan negara.
“Di satu sisi itu yang terkait dengan subsidi kita jaga dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi akan kita lanjutkan. Dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga,” ujar Airlangga.
Dampak konflik masih sulit diprediksi
Meski berbagai langkah mitigasi telah disiapkan, Airlangga menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak penuh konflik Timur Tengah terhadap perekonomian global maupun Indonesia.
“Kita tentu melihat situasinya, masih too early to call,” kata dia.
Ia menambahkan, ketidakpastian global membuat banyak investor cenderung menahan ekspansi. Karena itu, ketahanan dan resiliensi ekonomi menjadi faktor utama yang harus diperkuat pemerintah.
Komitmen impor energi dari AS
Dalam dokumen kesepakatan dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat atau Agreement of Reciprocal Trade, Indonesia juga berkomitmen membeli komoditas energi dari AS dengan nilai sekitar 15 miliar dolar AS.
Nilai tersebut mencakup beberapa komoditas utama, antara lain:
Impor liquefied petroleum gas (LPG) senilai 3,5 miliar dolar AS
Minyak mentah sebesar 4,5 miliar dolar AS
Bensin hasil kilang senilai 7 miliar dolar AS
Langkah diversifikasi pasokan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas energi nasional di tengah eskalasi konflik geopolitik global.
Airlangga: RI Amankan Pasokan Energi di Tengah Perang AS–Iran
. (net)