Tridinews.com - Pemerintah Iran menegaskan tidak akan ikut dalam perundingan dengan Amerika Serikat jika dua syarat utama belum dipenuhi, yakni gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan Teheran hanya akan duduk di meja perundingan jika kesepakatan awal benar-benar dijalankan.
Ia menyebut dua syarat tersebut sebagai hal mutlak sebelum negosiasi dimulai, di tengah perbedaan tafsir soal cakupan gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan.
Perbedaan Tafsir Picu Ketegangan
Iran dan sekutunya menilai Lebanon termasuk dalam kesepakatan damai, sementara pihak Israel dan Amerika Serikat memiliki pandangan berbeda.
Situasi ini membuat peluang negosiasi menjadi tidak pasti dan penuh ketegangan.
Trump Minta Israel Redam Serangan
Menanggapi kondisi tersebut, Presiden AS Donald Trump berupaya meredakan situasi.
Dalam percakapan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump meminta agar intensitas serangan militer di Lebanon dikurangi.
Ia berharap langkah tersebut bisa membuka ruang bagi keberhasilan diplomasi yang akan berlangsung di Islamabad.
Upaya ini diperkuat oleh Wakil Presiden AS JD Vance yang akan memimpin delegasi menuju Pakistan. Ia menyebut Israel mulai menahan diri demi menjaga peluang sukses perundingan.
Netanyahu di Posisi Dilematis
Di sisi lain, Netanyahu berada dalam posisi sulit. Ia tetap berkomitmen menekan Hizbullah, namun juga membuka peluang dialog langsung dengan pemerintah Lebanon.
Ia bahkan mengumumkan rencana negosiasi langsung dengan Lebanon di Washington untuk mencapai pelucutan senjata Hizbullah dan kesepakatan damai jangka panjang.
Namun, Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa negosiasi hanya bisa dilakukan setelah gencatan senjata benar-benar terwujud.
Kondisi ini menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang, dengan banyak kepentingan dan perbedaan sikap yang harus dijembatani.
Iran Tolak Negosiasi AS Jika Lebanon Tak Gencatan Senjata
. (net)