Tridinews.com - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menegaskan komitmennya memperkuat hilirisasi mineral dan mewujudkan swasembada energi nasional. Langkah ini ditempuh lewat pembenahan arsitektur riset nasional yang kini berbasis problem statement atau pemecahan masalah nyata.
Pendekatan tersebut menjadi penanda pergeseran paradigma riset di Indonesia. Jika sebelumnya penelitian lebih banyak berangkat dari topik akademik, kini arah kebijakan difokuskan pada kebutuhan riil industri dan kepentingan strategis negara.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Aziman, menjelaskan bahwa penyusunan arah riset tidak lagi hanya melibatkan perguruan tinggi, tetapi juga industri, BUMN, hingga Dewan Energi Nasional (DEN).
“Kami ingin penelitian berbasis pemecahan masalah. Apa yang menjadi perhatian DEN dan industri seperti MIND ID, itulah yang kami dorong menjadi fokus penelitian,” ujar Fauzan.
Anggaran Riset Naik Jadi Rp12 Triliun
Untuk mempercepat transformasi tersebut, pemerintah menaikkan anggaran riset nasional 2025 dari Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun. Tambahan anggaran ini difokuskan pada penguasaan teknologi di sektor strategis, khususnya hilirisasi mineral dan ketahanan energi.
Menurut Fauzan, tanpa penguasaan teknologi, Indonesia berisiko terus berada pada posisi eksportir bahan mentah dan bergantung pada teknologi impor. Karena itu, kolaborasi erat antara pemerintah, kampus, dan industri menjadi kunci keberhasilan.
Dalam konteks hilirisasi mineral, peran MIND ID dinilai sangat sentral. Holding tambang BUMN ini mengonsolidasikan sejumlah perusahaan besar nasional, seperti:
PT Aneka Tambang Tbk
PT Bukit Asam Tbk
PT Freeport Indonesia
PT Indonesia Asahan Aluminium
PT Timah Tbk
PT Vale Indonesia Tbk
Konsolidasi ini dinilai memperkuat orkestrasi hilirisasi sekaligus menjamin rantai pasok energi dan mineral nasional.
SDM dan Teknologi Harus Berjalan Bersama
Tak hanya teknologi, Kemendiktisaintek juga mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM) agar mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi global. Pengembangan SDM dan penguasaan teknologi ditargetkan berjalan simultan, sehingga kemandirian industri energi dan mineral dapat tercapai secara berkelanjutan.
Melalui sinergi riset, industri, dan pemerintah, agenda hilirisasi diharapkan tidak lagi semata bertumpu pada investasi fisik. Lebih dari itu, fondasinya harus ditopang inovasi, riset aplikatif, serta penguasaan teknologi dalam negeri yang kuat dan berkesinambungan.
Anggaran Riset Rp12 T, Fokus Hilirisasi & Energi
. (net)