Tridinews.com - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan negaranya siap memulai negosiasi langsung dengan Lebanon dalam waktu dekat. Langkah ini disebut sebagai upaya menuju perdamaian sekaligus melucuti senjata kelompok Hizbullah.
Menurut Netanyahu, keputusan tersebut diambil setelah adanya seruan berulang dari pihak Lebanon untuk membuka jalur dialog. Ia bahkan telah menginstruksikan kabinetnya agar proses negosiasi segera dimulai.
“Pembicaraan akan fokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon,” ujarnya.
Namun, di tengah rencana tersebut, situasi di lapangan justru masih memanas. Sehari sebelum pernyataan itu, militer Israel melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah wilayah di Lebanon, termasuk Beirut, Lembah Bekaa, dan wilayah selatan. Serangan itu dilaporkan menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai sekitar 1.000 lainnya.
Pihak Israel mengklaim target serangan adalah fasilitas militer Hizbullah. Sementara itu, kelompok tersebut menegaskan akan terus melawan dan menilai serangan Israel sebagai agresi yang harus dibalas.
Dalam pernyataan terpisah, Netanyahu menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata di Lebanon. Ia memastikan operasi militer terhadap Hizbullah akan terus berlanjut hingga keamanan warga Israel benar-benar terjamin.
Di sisi lain, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyatakan bahwa satu-satunya jalan keluar dari konflik ini adalah melalui gencatan senjata yang diikuti negosiasi langsung. Ia juga menyebut dukungan internasional terhadap upaya tersebut mulai menguat.
Meski demikian, tidak semua pihak di Lebanon sepakat. Anggota parlemen Hizbullah, Ali Fayyad, secara tegas menolak negosiasi langsung dengan Israel. Ia menekankan bahwa prioritas utama adalah penghentian serangan, penarikan pasukan Israel, serta kembalinya warga ke wilayah mereka.
Konflik ini juga berkaitan dengan dinamika yang lebih luas di kawasan. Ketegangan meningkat setelah Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, perbedaan pandangan muncul terkait apakah kesepakatan tersebut juga mencakup konflik di Lebanon. Iran bersikeras bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan, sementara AS dan Israel menolak anggapan tersebut.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai waktu dan lokasi negosiasi antara Israel dan Lebanon. Meski begitu, Lebanon disebut menginginkan keterlibatan AS sebagai mediator dan penjamin dalam setiap kesepakatan yang akan dicapai.
Netanyahu Buka Negosiasi Israel-Lebanon, Hizbullah Menolak
. (net)