Iran Tunda Negosiasi, Tegang dengan Ancaman AS

iran-tunda-negosiasi-tegang-dengan-ancaman-as . (net)

Tridinews.com - Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada di ujung ketidakpastian. Teheran menegaskan belum berencana mengirim delegasi untuk melanjutkan negosiasi dalam waktu dekat.

Sikap ini dipicu oleh pernyataan keras Presiden AS Donald Trump, terutama terkait ancaman blokade laut terhadap Iran. Sumber dari pihak Iran menyebutkan bahwa selama ancaman tersebut belum dicabut, peluang dialog hampir tertutup.

Di sisi lain, Washington tetap menunjukkan optimisme. Trump bahkan mengklaim utusannya, termasuk Jared Kushner dan Steve Witkoff, akan menuju Islamabad untuk melanjutkan pembicaraan. Namun, klaim ini dibantah oleh otoritas Iran yang menyatakan belum ada konfirmasi kehadiran delegasi mereka.

Kebuntuan ini merupakan kelanjutan dari perundingan sebelumnya di Islamabad yang berlangsung hingga 21 jam namun gagal mencapai kesepakatan final. Delegasi Iran yang dipimpin Mohammad Bagher Ghalibaf dan pihak AS yang diwakili J.D. Vance hanya mampu mencapai beberapa titik temu kecil.

Ketegangan semakin meningkat setelah Trump menuduh Iran melanggar gencatan senjata dan mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital negara tersebut jika kesepakatan tidak tercapai.

Situasi diperparah dengan keputusan Iran menutup kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi dunia. Penutupan ini berdampak besar, mulai dari terganggunya pelayaran hingga lonjakan harga minyak global.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian merespons keras ancaman AS. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan dan menyebut langkah militernya sebagai bentuk pertahanan diri yang sah.

Pezeshkian juga mengkritik negara-negara Barat yang dinilai berupaya melemahkan Iran. Ia menekankan pentingnya persatuan nasional dan kesiapan militer, termasuk peran Islamic Revolutionary Guard Corps, dalam menghadapi tekanan eksternal.

Dengan kondisi yang terus memanas dan saling tuding antara kedua pihak, peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat tampaknya semakin menipis.

Editor: redaktur

Komentar