Eropa Dorong NATO Perkuat Arktik, Redam Ambisi Trump atas Greenland

eropa-dorong-nato-perkuat-arktik-redam-ambisi-trump-atas-greenland . (net)

Tridinews.com – Sejumlah negara Eropa meyakini bahwa penguatan kehadiran NATO di kawasan Arktik dapat meredam ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Greenland. Langkah tersebut dinilai bisa meyakinkan Washington bahwa kepentingan keamanan AS tidak mengharuskan kepemilikan langsung atas pulau tersebut.

Pernyataan ini mencuat setelah Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat “mutlak” membutuhkan Greenland. Ia beralasan wilayah itu memiliki nilai strategis tinggi karena dikelilingi oleh aktivitas Rusia dan China, sehingga dianggap krusial bagi keamanan nasional AS.

Sikap Trump tersebut memicu kekhawatiran di Eropa. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen secara terbuka mendesak Trump untuk menghentikan ancaman aneksasi terhadap Greenland, wilayah otonom yang berada dalam Kerajaan Denmark.

Dalam pertemuan tertutup para duta besar NATO di Brussel, negara-negara anggota sepakat bahwa penguatan postur militer NATO di Arktik menjadi langkah penting. Fokus pembahasan meliputi peningkatan kemampuan intelijen, pemantauan wilayah, belanja pertahanan Arktik, pengerahan peralatan militer tambahan, serta peningkatan intensitas latihan militer di kawasan tersebut.

Para diplomat menyebut pertemuan yang dihadiri oleh 32 perwakilan negara anggota NATO itu berlangsung dalam suasana produktif dan konstruktif. Negara-negara Eropa menilai kompromi dengan Trump tetap menjadi opsi utama demi menjaga stabilitas dan keutuhan aliansi.

Meski demikian, Trump terus menegaskan bahwa Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat. Ia kerap menyoroti posisi strategis pulau tersebut dalam menjaga pertahanan “dunia bebas” dari pengaruh China dan Rusia.

Penolakan keras datang dari Greenland sendiri. Mantan Perdana Menteri Greenland, Mute Egede, menegaskan bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Perdana Menteri Greenland saat ini, Jens-Frederik Nielsen.

Ketegangan meningkat ketika sebuah unggahan di media sosial menampilkan peta Greenland berwarna bendera Amerika Serikat dengan keterangan “SOON”. Unggahan tersebut menuai kecaman dari pemerintah Denmark, yang menuntut penghormatan terhadap keutuhan wilayah Kerajaan Denmark.

Situasi semakin sensitif setelah Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland. Pernyataan Landry yang menegaskan tujuan AS untuk menjadikan Greenland sebagai bagian wilayahnya mendapat kecaman keras dari pejabat Denmark.

Greenland sendiri merupakan koloni Denmark hingga 1953. Pulau terbesar di dunia itu tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark setelah memperoleh status otonomi pada 2009, dengan kewenangan luas dalam mengatur pemerintahan sendiri dan kebijakan domestik.

Editor: redaktur

Komentar