Tridinews.com - Nilai mata uang Iran, rial, kembali mengalami tekanan berat setelah mencatat rekor terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat. Di pasar terbuka, satu dolar AS kini setara dengan sekitar 1,4 juta rial, menandai fase baru krisis ekonomi yang semakin dalam di Teheran.
Anjloknya nilai tukar tersebut memperparah kondisi ekonomi Iran yang sudah rapuh dan memicu kekhawatiran luas soal stabilitas jangka panjang. Penurunan ini bukan kejadian tiba-tiba, melainkan lanjutan dari tren depresiasi tajam yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam konteks ekonomi global, depresiasi mata uang berarti melemahnya nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang asing lain. Fenomena ini umumnya dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti lemahnya indikator ekonomi, perbedaan tingkat suku bunga antarnegara, hingga sentimen pasar yang dipicu ketegangan politik dan geopolitik.
Dalam kasus Iran, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tertekan, akses devisa yang terbatas, serta meningkatnya risiko geopolitik membuat kepercayaan pasar terhadap rial terus merosot. Ketika kepercayaan menurun, permintaan terhadap mata uang lokal ikut melemah, sehingga nilainya semakin tertekan.
Depresiasi mata uang membawa dampak ganda. Di satu sisi, pelemahan rial sebenarnya bisa membuat produk ekspor Iran lebih murah dan kompetitif di pasar internasional. Namun di sisi lain, dampak negatifnya jauh lebih terasa bagi masyarakat. Biaya impor melonjak, harga kebutuhan pokok naik, dan inflasi kian tak terkendali.
Sepanjang 2025, nilai rial diperkirakan telah kehilangan sekitar 45 persen nilainya. Penurunan ini memperpanjang krisis daya beli yang terus menggerus tabungan masyarakat dan kepercayaan terhadap sistem keuangan domestik. Inflasi tahunan bahkan menembus angka lebih dari 42 persen, menjadikan Iran sebagai salah satu negara dengan inflasi tertinggi di dunia.
Harga pangan, perumahan, hingga barang impor melonjak drastis. Kondisi tersebut menekan rumah tangga dan pelaku usaha, sekaligus memperbesar risiko ketidakstabilan sosial.
Sejumlah analis menilai kehancuran nilai tukar rial dipicu oleh kombinasi sanksi ekonomi Amerika Serikat, ketegangan regional yang berkepanjangan, serta kegagalan menahan laju inflasi. Tanpa upaya serius untuk menstabilkan harga, memperbaiki arus masuk devisa, dan memulihkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter, tekanan terhadap rial diperkirakan masih akan berlanjut.
Sebagai perbandingan, pada masa Revolusi Iran tahun 1979, satu dolar AS hanya bernilai sekitar 70 rial. Lebih dari empat dekade kemudian, angka tersebut melonjak hingga 1,4 juta rial, yang berarti mata uang Iran telah kehilangan nilai puluhan ribu kali lipat. Penurunannya pun tidak berlangsung linear, melainkan diselingi periode krisis besar setiap kali inflasi melonjak atau pasokan valuta asing makin ketat.
Di tengah krisis ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan ingin “membantu” rakyat Iran. Namun, banyak pihak menilai klaim tersebut bertolak belakang dengan kebijakan tekanan maksimum yang pernah ia terapkan, yang justru dianggap sebagai salah satu akar masalah krisis ekonomi Iran saat ini.
Sanksi berat yang dijatuhkan Washington telah melumpuhkan berbagai sektor penting di Iran, mulai dari energi hingga kesehatan. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, dari sulitnya akses obat-obatan hingga meroketnya harga kebutuhan sehari-hari.
Penarikan sepihak AS dari perjanjian nuklir 2015 dan pemberlakuan sanksi baru kala itu memang dimaksudkan untuk menekan pemerintah Iran. Namun, dalam praktiknya, beban terberat justru ditanggung rakyat, yang kini harus menghadapi kenyataan pahit dari melemahnya nilai rial dan krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Rial Iran Terjun Bebas ke Rekor Terendah, Apa Dampaknya bagi Ekonomi?
. (net)