Tridinews.com - Harga minyak dunia melonjak tajam hingga sekitar 20 persen dan menembus level 100 dolar AS per barel di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah serta terganggunya pasokan energi global.
Minyak mentah jenis Brent crude oil tercatat melonjak hingga 20 persen menjadi 111,04 dolar AS per barel saat perdagangan Asia dibuka pada 9 Maret. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) bahkan naik sekitar 22 persen.
Lonjakan harga tersebut dipicu oleh pembatasan produksi minyak oleh sejumlah produsen utama di kawasan Timur Tengah setelah jalur pelayaran strategis Selat Hormuz hampir tertutup bagi kapal-kapal tanker.
Beberapa negara produsen minyak seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait mulai mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan minyak mereka semakin penuh. Sementara itu, Irak juga dilaporkan telah menutup sebagian produksinya sejak pekan lalu.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu gangguan besar pada pasar energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis kekhawatiran terkait lonjakan harga minyak akibat perang tersebut. Ia menyebut kenaikan harga energi sebagai konsekuensi kecil yang harus dibayar untuk menghilangkan ancaman program nuklir Iran.
“Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keselamatan dan perdamaian AS dan dunia. Hanya orang bodoh yang berpikir berbeda!” tulis Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada 8 Maret.
Konflik yang berlangsung sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran lebih dari sepekan lalu telah memicu gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz serta serangan terhadap berbagai infrastruktur energi di kawasan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling vital di dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati wilayah tersebut setiap hari.
Presiden Andy Lipow dari Lipow Oil Associates mengatakan harga minyak berpotensi terus meningkat jika konflik tidak segera mereda.
“Harga minyak 100 dolar AS mungkin hanya target jangka pendek yang akan menuju ke level lebih tinggi seiring berlanjutnya konflik. Produksi minyak dikurangi karena penyimpanan penuh akibat kapal tanker tidak dapat memuat minyak,” ujarnya.
Lonjakan harga energi ini juga mulai berdampak pada konsumen. Di Amerika Serikat, harga bensin eceran dilaporkan telah mencapai level tertinggi sejak Agustus 2024, sehingga menimbulkan tantangan politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada akhir 2026.
Di tengah situasi tersebut, ancaman terhadap infrastruktur energi juga meningkat. Arab Saudi dilaporkan mencegat dan menghancurkan drone yang menuju ke ladang minyak Shaybah oil field yang memiliki kapasitas produksi sekitar satu juta barel per hari.
Selain itu, penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga memaksa Arab Saudi menghentikan operasi di kilang minyak Ras Tanura Refinery serta mengalihkan ekspor minyaknya melalui pelabuhan di kawasan Laut Merah.
Perang Timur Tengah Picu Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar
. (net)