Tridinews.com - Perundingan penting antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Padahal, pertemuan maraton selama sekitar 21 jam itu diharapkan mampu memperpanjang gencatan senjata dua minggu menjadi perdamaian yang lebih permanen.
Pertemuan ini menjadi momen langka karena merupakan kontak langsung tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam 1979. Namun, harapan tersebut pupus di tengah berbagai perbedaan tajam dan situasi yang tidak kondusif.
Berikut lima faktor utama yang menyebabkan perundingan tersebut gagal:
1. Kedua pihak sama-sama keras kepala
Sejak awal, perundingan sudah berjalan di atas dasar yang rapuh. Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan menjamin tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk kepentingan damai.
JD Vance menyebut pihaknya tidak menemukan titik temu. Sementara itu, Iran menganggap tuntutan tersebut berlebihan dan tidak realistis. Kondisi ini membuat ruang kompromi hampir tidak ada.
2. Suasana tegang akibat ancaman politik
Alih-alih menciptakan suasana kondusif, perundingan justru dibayangi tekanan. Presiden AS Donald Trump beberapa kali melontarkan ancaman keras terhadap Iran, bahkan menjelang perundingan dimulai.
Bagi Iran, pernyataan tersebut bukan bagian dari diplomasi, melainkan bentuk tekanan. Akibatnya, kedua pihak datang dengan rasa curiga tinggi, bukan niat membangun kepercayaan.
3. Peran Israel memperumit situasi
Di tengah pembicaraan, Israel tetap melanjutkan serangan ke Lebanon yang melibatkan kelompok Hizbullah, sekutu Iran. Hal ini membuat Iran menuntut penghentian serangan sebagai syarat negosiasi.
Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan operasi militer tetap berjalan. Situasi ini memperlebar jarak antara posisi Iran dan Amerika.
4. Sengketa Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling krusial. Iran menutup sebagian jalur tersebut sejak konflik memanas, mengganggu pasokan minyak global.
Amerika Serikat mendesak agar jalur itu segera dibuka. Namun, Iran justru menjadikannya alat tawar untuk menekan pencabutan sanksi dan mendapatkan jaminan keamanan. Perbedaan kepentingan ini tak kunjung menemukan jalan keluar.
5. Minimnya kepercayaan antar pihak
Faktor paling mendasar adalah krisis kepercayaan. Sejarah panjang konflik membuat kedua negara saling meragukan niat satu sama lain.
Iran melihat proposal AS sebagai jebakan, sementara AS menganggap Iran tidak serius mencari solusi. Bahkan sebelum perundingan dimulai, pejabat Iran sudah mengakui bahwa mereka datang dengan niat baik, tetapi tanpa rasa percaya.
Situasi ini diperparah oleh pengalaman masa lalu, termasuk serangan militer yang terjadi tak lama setelah pembicaraan sebelumnya.
Gagal di Islamabad, Ini 5 Penyebab Mandeknya Perundingan AS-Iran
. (net)