Iran Sebut 3.468 Tewas, Selat Hormuz Kembali Ditutup

iran-sebut-3468-tewas-selat-hormuz-kembali-ditutup . (net)

Tridinews.com - Situasi konflik di Timur Tengah kembali memanas. Pemerintah Iran melaporkan jumlah korban jiwa yang terus bertambah dalam konflik terbaru dengan Amerika Serikat dan Israel.

Melalui Foundation of Martyrs and Veterans Affairs, Iran mengumumkan sebanyak 3.468 orang tewas. Kepala yayasan tersebut, Ahmad Mousavi, menyebut para korban sebagai “martir” yang gugur dalam konflik.

Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding laporan sebelumnya dari Iranian Legal Medicine Organization yang mencatat 3.375 korban jiwa per 12 April 2026.

Namun, data berbeda datang dari Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga pemantau berbasis di AS. Mereka melaporkan sedikitnya 3.636 korban jiwa hingga 7 April, termasuk 1.701 warga sipil—di antaranya 254 anak-anak—serta 1.221 personel militer dan ratusan korban lain yang belum teridentifikasi statusnya.

Di tengah meningkatnya korban, ketegangan juga terlihat di jalur strategis dunia, Selat Hormuz. Iran kembali menutup selat tersebut pada 18 April 2026, setelah sempat dibuka singkat sebelumnya.

Penutupan ini dipicu sikap tegas Washington yang tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Laporan menyebut pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bahkan melepaskan tembakan ke kapal tanker dan kapal berbendera India yang mencoba melintas, meski tidak ada laporan korban jiwa dari insiden tersebut.

Komando militer Iran, Khatam al-Anbiya, menegaskan pembatasan di Selat Hormuz akan terus diberlakukan hingga AS menjamin kebebasan penuh bagi kapal yang keluar-masuk Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menegaskan bahwa negaranya tidak bisa dipaksa menerima pengepungan sepihak. Ia menyebut Iran justru berupaya menjaga jalur pelayaran tetap aman.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan blokade akan tetap berjalan. Ia juga menyinggung kemungkinan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan tidak akan diperpanjang jika tidak ada kesepakatan damai permanen.

Meski begitu, Trump mengaku tetap optimistis. Ia menyebut negosiasi yang berlangsung sepanjang akhir pekan menunjukkan perkembangan positif dan sejumlah kesepakatan awal telah dicapai.

Sumber diplomatik menyebut pembicaraan antara Iran dan AS berpotensi menghasilkan nota kesepahaman dalam waktu dekat, yang bisa dilanjutkan ke perjanjian damai penuh dalam 60 hari.

Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka selama tekanan dari AS masih berlanjut.

Kekhawatiran juga datang dari komunitas internasional. Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, menyatakan konflik ini berdampak luas, bukan hanya bagi kawasan tetapi juga dunia.

Sebagai jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan LNG global, ketegangan di Selat Hormuz membuat pasar energi dunia berada dalam kondisi rawan.

Meski ada secercah harapan menuju perdamaian, para pejabat Iran menegaskan masih ada banyak hal yang harus diselesaikan. Ulama Iran, Ahmad Khatami, menutup dengan pernyataan tegas bahwa rakyat Iran tidak akan bernegosiasi dalam posisi tertekan.

Kondisi ini menunjukkan konflik antara Iran dan AS masih jauh dari kata selesai, dengan situasi yang tetap dinamis dan penuh ketidakpastian.

Editor: redaktur

Komentar