Selat Hormuz Ditutup Lagi, Ini Nasib Tanker Pertamina

selat-hormuz-ditutup-lagi-ini-nasib-tanker-pertamina . (net)

Tridinews.com - Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran berdampak langsung pada aktivitas pelayaran global, termasuk dua kapal tanker milik Pertamina.

Sebelumnya, selat vital tersebut sempat dibuka pada Jumat (17/4/2026) menyusul kesepakatan gencatan senjata di kawasan. Momentum itu langsung dimanfaatkan oleh Pertamina International Shipping (PIS) untuk menyiapkan rencana pelayaran bagi dua kapalnya yang tertahan.

Dua kapal tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang diketahui masih berada di kawasan Teluk Persia. Berdasarkan data pelacakan terakhir, Pertamina Pride berada di dekat Al Jubail, Arab Saudi, sementara Gamsunoro terpantau di perairan Dubai, Uni Emirat Arab.

PIS menyatakan telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi, mulai dari penyusunan rute aman, identifikasi risiko, hingga navigasi elektronik dan rencana darurat. Koordinasi juga dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri RI, perusahaan asuransi, hingga otoritas setempat.

“Prioritas kami adalah keselamatan awak kapal serta keamanan kapal dan muatannya,” ujar perwakilan PIS.

Namun, harapan untuk segera melintas pupus setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah dibuka. Keputusan ini diambil menyusul sikap Amerika Serikat yang tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Dalam pernyataan resminya, otoritas militer Iran menegaskan bahwa pembatasan di Selat Hormuz akan terus diberlakukan hingga kebebasan pelayaran ke dan dari Iran dipulihkan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan blokade akan tetap berjalan, bahkan membuka kemungkinan tidak memperpanjang gencatan senjata jika belum tercapai kesepakatan damai.

Situasi ini membuat posisi kapal-kapal tanker, termasuk milik Pertamina, berada dalam ketidakpastian. Mereka harus menunggu perkembangan keamanan sebelum dapat melanjutkan pelayaran.

Sebagai jalur distribusi sekitar 20 persen energi dunia, ketegangan di Selat Hormuz bukan hanya berdampak pada kapal-kapal tertentu, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan minyak global.

Editor: redaktur

Komentar