Trump Klaim Iran Rugi Rp8,5 T/Hari Imbas Blokade Hormuz

trump-klaim-iran-rugi-rp85-thari-imbas-blokade-hormuz . (net)

Tridinews.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim Iran mengalami kerugian ekonomi besar akibat blokade di Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut Iran merugi hingga 500 juta dolar AS per hari atau sekitar Rp8,5 triliun. Ia menilai tekanan tersebut menjadi strategi untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.

“Blokade ini benar-benar menghancurkan Iran. Kerugian sebesar itu tidak akan bertahan lama,” ujar Trump.

Blokade dilakukan dengan menempatkan kapal perang AS di titik-titik strategis, termasuk sekitar Selat Hormuz dan Teluk Oman. Kapal yang dicurigai memiliki kaitan dengan Iran akan diawasi ketat, bahkan bisa dihentikan atau dilumpuhkan jika dianggap melanggar sanksi.

Penyitaan Kapal Picu Ketegangan Baru
Situasi semakin memanas setelah Angkatan Laut AS menyita kapal kargo berbendera Iran di dekat Teluk Oman. Kapal tersebut diduga mencoba menembus blokade.

Washington menyebut langkah itu sebagai bagian dari penegakan sanksi. Namun, Teheran mengecam tindakan tersebut sebagai “pembajakan” dan pelanggaran gencatan senjata.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menilai aksi AS justru merusak upaya diplomasi yang sedang berjalan. Ia menegaskan Iran tetap terbuka untuk dialog, tetapi tekanan militer menjadi hambatan utama.

Akibat insiden ini, Iran memutuskan tidak menghadiri perundingan lanjutan yang dijadwalkan di Islamabad, memperbesar ketidakpastian proses damai.

Dampak ke Ekonomi Global
Ketegangan di Selat Hormuz juga mulai berdampak pada pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent dilaporkan naik hingga 95 dolar AS per barel, didorong kekhawatiran terganggunya pasokan global.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini langsung memicu reaksi pasar, termasuk kenaikan biaya pengiriman dan asuransi.

Sejumlah analis menilai lonjakan harga bukan hanya akibat gangguan fisik distribusi, tetapi juga karena meningkatnya risiko geopolitik. Jika konflik terus berlanjut tanpa solusi diplomatik, harga energi diperkirakan masih berpotensi naik.

Meski demikian, klaim kerugian harian Iran sebesar 500 juta dolar AS dari pihak AS belum diverifikasi secara independen, sehingga masih menjadi perdebatan di kalangan analis ekonomi global.

Editor: redaktur

Komentar