Trump Perpanjang Gencatan, Iran Tolak Negosiasi

trump-perpanjang-gencatan-iran-tolak-negosiasi . (net)

Tridinews.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu pada Selasa (21/4/2026), hanya beberapa jam sebelum masa berlaku kesepakatan sebelumnya berakhir.

Awalnya, gencatan senjata antara kedua negara disepakati berlangsung selama 14 hari dan dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4/2026). Perpanjangan ini dilakukan untuk memberi ruang bagi kelanjutan pembicaraan damai yang dimediasi oleh Pakistan.

Trump menyebut keputusan itu diambil setelah menerima permintaan dari Pakistan agar serangan terhadap Iran ditunda. Ia berharap langkah ini membuka peluang bagi pihak Iran untuk menyatukan posisi dan mengajukan proposal damai.

Namun, di tengah upaya tersebut, Iran justru menyatakan tidak akan mengirim delegasi untuk menghadiri pembicaraan lanjutan di Islamabad. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa hingga saat ini belum ada prospek Iran untuk kembali ke meja negosiasi.

Ketegangan juga meningkat karena Iran menilai perpanjangan gencatan senjata hanya sebagai taktik untuk mengulur waktu. Seorang penasihat parlemen Iran bahkan menyebut blokade Amerika terhadap pelabuhan Iran sebagai tindakan yang setara dengan serangan militer.

Salah satu isu krusial dalam konflik ini adalah kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Iran masih mempertahankan kontrol ketat di wilayah tersebut, yang berdampak pada lonjakan harga energi global.

Di sisi lain, utusan Iran untuk PBB menyebut ada sinyal bahwa AS mungkin bersedia menghentikan blokade. Namun, penghentian itu tetap menjadi syarat utama bagi Iran untuk kembali berunding.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyambut baik keputusan Trump. Ia berharap kedua pihak dapat memanfaatkan momentum ini untuk mencapai kesepakatan damai yang permanen.

Sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026, ribuan korban jiwa telah berjatuhan di berbagai negara di Timur Tengah, sementara dampak ekonomi global semakin terasa akibat terganggunya jalur energi utama dunia.

Editor: redaktur

Komentar