Tridinews.com - Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terus memanas dengan dampak besar di kawasan Timur Tengah. Dalam perkembangan terbaru, Iran dilaporkan telah merusak sedikitnya 16 lokasi militer milik AS yang tersebar di delapan negara sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026.
Berdasarkan hasil investigasi CNN, sejumlah fasilitas penting militer AS mengalami kerusakan serius, bahkan beberapa di antaranya disebut hampir tidak dapat digunakan lagi. Informasi ini diperoleh dari seorang ajudan Kongres AS yang mengetahui langsung penilaian kerusakan tersebut.
Menurut sumber tersebut, tingkat kerusakan bervariasi. Ada fasilitas yang mengalami kerusakan ringan dan masih dapat diperbaiki, namun ada pula yang mengalami kehancuran besar hingga berpotensi ditutup permanen.
“Ada berbagai spektrum penilaian. Mulai dari fasilitas yang hancur total dan perlu ditutup, hingga ada yang masih dianggap layak dipertahankan karena nilai strategisnya bagi AS,” ujar sumber itu.
Sasaran utama serangan Iran disebut bukan hanya bangunan biasa, melainkan sistem pertahanan penting seperti radar canggih, sistem komunikasi militer, hingga pesawat tempur yang ditempatkan di berbagai pangkalan AS di Timur Tengah.
Citra satelit menunjukkan bahwa Teheran secara strategis memilih target-target bernilai tinggi yang sulit digantikan. Sistem radar menjadi salah satu fokus utama serangan karena merupakan aset paling mahal dan paling terbatas milik AS di kawasan tersebut.
“Patut dicatat bahwa mereka benar-benar mengidentifikasi fasilitas-fasilitas itu sebagai target paling efisien untuk diserang,” kata ajudan Kongres tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa sistem radar AS merupakan sumber daya militer yang sangat vital dan mahal, sehingga kerusakannya menjadi pukulan besar bagi operasi pertahanan Washington di Timur Tengah.
Laporan CNN ini disusun berdasarkan puluhan citra satelit terbaru serta wawancara dengan berbagai narasumber dari AS dan negara-negara Teluk Arab.
Sementara itu, dampak finansial dari konflik ini juga sangat besar. Pelaksana Tugas Pengawas Keuangan Pentagon, Jules Hurst III, mengungkapkan kepada anggota parlemen AS bahwa perang melawan Iran sejauh ini telah menghabiskan biaya sekitar 25 miliar dolar AS.
Jika dikonversikan dengan kurs Rp17.324 per dolar AS, jumlah tersebut setara dengan lebih dari Rp433 triliun yang harus ditanggung oleh pembayar pajak Amerika.
Besarnya kerusakan infrastruktur militer dan biaya perang ini menunjukkan bahwa konflik AS-Iran bukan hanya perang politik dan militer, tetapi juga menjadi beban ekonomi besar yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan dunia.
Iran Serang 16 Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
. (net)