Tridinews.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal perdamaian terbaru yang diajukan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat (1/5/2026), di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung namun belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Trump menegaskan bahwa proposal yang diajukan Teheran berisi sejumlah syarat yang tidak dapat diterima oleh pemerintahannya. Ia juga meragukan peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, saya tidak puas dengan itu, jadi kita lihat saja apa yang terjadi,” kata Trump seperti dikutip dari Al Jazeera.
Menurutnya, Amerika Serikat siap mengambil langkah tegas apabila negosiasi gagal dan Iran tetap bersikeras dengan tuntutan yang dinilai tidak realistis oleh Washington.
Negosiasi antara kedua negara diketahui telah terhenti selama beberapa pekan tanpa kemajuan berarti. Bahkan, perundingan yang berlangsung di Islamabad selama lebih dari 20 jam juga gagal menghasilkan kerangka dasar untuk pembicaraan lanjutan.
Gencatan senjata yang diberlakukan sejak awal April hanya mampu meredam sementara eskalasi konflik yang mulai memanas sejak akhir Februari 2026.
Salah satu titik paling sensitif dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Ketegangan di wilayah ini menjadi perhatian global karena berpotensi mengganggu stabilitas energi internasional.
Sumber diplomatik menyebut Iran telah menyampaikan proposal baru melalui mediator Pakistan. Reuters melaporkan bahwa proposal tersebut sudah diteruskan kepada pihak Amerika Serikat, meski detail isi dokumennya belum dipublikasikan secara resmi.
Trump menegaskan bahwa isi proposal tersebut tetap memuat syarat-syarat yang tidak dapat disetujui oleh pemerintah AS.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Teheran masih membuka ruang diplomasi. Namun, ia menegaskan pembicaraan hanya bisa berjalan jika Washington mengubah pendekatannya dan menghentikan retorika ancaman terhadap Iran.
Iran juga memperingatkan bahwa mereka siap memberikan respons jika konflik kembali meningkat, termasuk dengan menargetkan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Para pengamat menilai kedua negara sebenarnya sama-sama memiliki kepentingan untuk mengakhiri konflik, tetapi masing-masing tetap berusaha mempertahankan posisi tawar politik dan militernya.
Jika ketegangan ini terus berlanjut tanpa solusi diplomatik yang jelas, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi dan perdagangan internasional.
Trump Tolak Proposal Damai Iran, Negosiasi Kian Buntu
. (net)