Tridinews.com - Selama bertahun-tahun, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dikenal sebagai duet kuat di Teluk, bergerak seirama dari politik hingga ekonomi, bahkan memperluas pengaruh hingga Afrika. Namun, di balik kedekatan itu, rivalitas mulai tumbuh dan kini mencuat ke permukaan.
Dari Sekutu Menjadi Rival
Hubungan erat Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dengan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan sempat dianggap sebagai tulang punggung aliansi kedua negara. Sheikh Mohamed bahkan sempat berperan sebagai mentor bagi Mohammed bin Salman di awal kariernya.
Seiring ambisi keduanya berkembang berbeda, keretakan mulai muncul. Mohammed bin Salman fokus mempercepat reformasi ekonomi di Arab Saudi sekaligus menegaskan dominasi regionalnya, sementara UEA memperluas pengaruh melalui jaringan aliansi dan aktor non-negara di konflik regional.
Kini, Riyadh dan Abu Dhabi berselisih dalam isu produksi minyak, konflik Sudan, persaingan di Tanduk Afrika, hingga Yaman, meski secara formal keduanya masih tergabung dalam koalisi militer anti-Houthi.
Ketegangan di Yaman
Perbedaan kepentingan di Yaman menjadi sorotan utama. Ketegangan muncul ketika Dewan Transisi Selatan (STC)—yang didukung UEA—merebut wilayah kaya sumber daya di Hadramawt dan Mahra, sebelumnya dikuasai pasukan yang setia pada pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Koalisi pimpinan Arab Saudi bahkan dilaporkan membombardir pengiriman senjata yang diduga berasal dari UEA untuk kelompok separatis itu. Retakan hubungan sebenarnya muncul sejak UEA menarik sebagian pasukannya dari Yaman pada Juli 2019.
Pakar Yaman dan Teluk, Baraa Shiban, menilai tujuan kedua negara di Yaman sangat berbeda dan sulit dipertemukan. Riyadh khawatir UEA bersedia “memecah negara” demi pengaruh, sementara Arab Saudi lebih memilih mempertahankan otoritas yang ada.
Hubungan yang dulunya harmonis kini memasuki fase baru: dari sekutu strategis menjadi rival regional, menandai dinamika geopolitik Teluk yang kian kompleks.