Tridinews.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai berdampak langsung pada pasokan energi global. Menteri Energi Australia, Chris Bowen, mengungkapkan bahwa enam kapal tanker minyak yang dijadwalkan menuju Australia batal atau mengalami penundaan akibat konflik di kawasan Teluk Persia.
Dari total 81 kapal tanker yang direncanakan, enam di antaranya tidak dapat melanjutkan pelayaran. Kapal-kapal tersebut seharusnya tiba antara pertengahan April hingga pertengahan Mei.
“Kami memahami situasi global saat ini penuh tantangan. Pasokan minyak ke kilang-kilang Asia melambat, dan itu turut berdampak pada kami,” ujar Bowen dalam wawancara dengan media ABC.
Meski demikian, pemerintah Australia memastikan pasokan energi dalam negeri masih aman untuk jangka pendek. Stok cadangan minyak saat ini dinilai cukup stabil, dengan ketersediaan sekitar 38 hari untuk bensin, serta masing-masing 30 hari untuk diesel dan bahan bakar pesawat.
Namun, Bowen mengingatkan bahwa kondisi bisa berubah setelah April. Ketidakpastian jalur pelayaran, terutama di wilayah Teluk Persia, membuat distribusi minyak ke depan sulit diprediksi.
Gangguan ini tidak lepas dari konflik yang memanas sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran yang menyasar wilayah Israel dan pangkalan militer AS di berbagai titik Timur Tengah.
Situasi ini tidak hanya memperburuk stabilitas kawasan, tetapi juga mulai mengganggu rantai pasok energi global. Jika konflik terus berlanjut, dampaknya diperkirakan akan semakin terasa, termasuk potensi kenaikan harga energi dan tekanan terhadap perekonomian negara-negara yang bergantung pada impor minyak.
Konflik Teluk Ganggu Pasokan, 6 Kapal Minyak ke Australia Batal
. (net)