Aramco Pangkas Pasokan, Asia Tertekan Krisis Energi

aramco-pangkas-pasokan-asia-tertekan-krisis-energi . (net)

Tridinews.com - Perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco dilaporkan mengurangi pasokan minyak mentah ke sejumlah negara di Asia untuk pengiriman April 2026. Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Konflik yang terus memanas berdampak langsung pada jalur pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di wilayah ini membuat distribusi energi global menjadi tidak stabil.

Berdasarkan laporan Reuters, Aramco kini hanya mengirim minyak jenis Arab Light kepada pelanggan jangka panjang melalui jalur alternatif, yakni pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur ini dipilih untuk menghindari risiko di Selat Hormuz yang saat ini rawan.

Keputusan tersebut langsung dirasakan dampaknya oleh negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk. Sejumlah kilang dilaporkan mulai menghadapi tekanan akibat terbatasnya pasokan, sehingga memaksa mereka meninjau ulang strategi pengadaan, termasuk mencari sumber alternatif.

Situasi ini juga mendorong kekhawatiran lebih luas. Laporan Financial Times menyebut konflik yang berkepanjangan berpotensi berkembang menjadi krisis ekonomi global.

Harga minyak sendiri sudah melonjak lebih dari 50 persen sejak konflik memanas. Bahkan, beberapa acuan minyak dari kawasan Timur Tengah dilaporkan mendekati angka 160 dolar AS per barel.

Jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut, dampaknya diperkirakan bisa melampaui krisis energi besar sebelumnya, seperti krisis minyak 1973 hingga periode Revolusi Iran.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pasar energi global kini berada dalam tekanan besar, sementara negara-negara pengimpor—terutama di Asia—harus bersiap menghadapi kemungkinan krisis pasokan yang lebih panjang.

Editor: redaktur

Komentar