Tridinews.com - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras terkait blokade Selat Hormuz.
Melalui platform Truth Social, Trump memberi tenggat waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Ia bahkan mengancam akan “membuka pintu neraka” jika Teheran tidak segera mengambil langkah.
Ancaman ini mempertegas kemungkinan eskalasi militer yang lebih luas antara AS, Iran, dan sekutunya, termasuk Israel.
Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam. Komandan militer Iran dari Markas Besar Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, menyebut pernyataan Trump sebagai tanda kegugupan. Ia menegaskan bahwa Iran siap melancarkan serangan tanpa batas terhadap infrastruktur militer AS dan Israel.
Menurutnya, sejak awal konflik, Iran telah konsisten menjalankan strategi militernya, dan siap meningkatkan intensitas serangan jika tekanan terus berlanjut.
Situasi semakin kompleks ketika laporan menyebut Benjamin Netanyahu telah menggelar pertemuan keamanan untuk membahas rencana serangan lanjutan. Target utama disebut mencakup fasilitas energi Iran, yang dianggap sebagai sumber pendanaan utama aktivitas militernya.
Militer Israel bahkan dikabarkan tinggal menunggu “lampu hijau” dari Washington untuk melancarkan operasi besar berikutnya.
Di tengah ancaman tersebut, Iran tetap mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz—jalur vital yang selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia atau setara 20 juta barel per hari.
Namun, Iran menerapkan kebijakan selektif: hanya kapal dari negara yang dianggap “sahabat” seperti Irak, Pakistan, Malaysia, dan China yang diizinkan melintas. Sementara kapal yang terkait dengan AS dan Israel masih tertahan di kawasan Teluk.
Blokade ini telah mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.
Sementara itu, upaya diplomatik yang dilakukan sejumlah negara melalui jalur mediasi masih menemui jalan buntu. Iran menolak tuntutan AS yang dianggap tidak realistis, sementara Washington terus meningkatkan tekanan militer.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, dunia kini menanti apakah konflik ini akan mereda melalui diplomasi—atau justru berubah menjadi konfrontasi yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Trump Ancam Iran 48 Jam, Konflik Selat Hormuz Makin Panas
. (net)