Gedung Putih Bantah Rumor Trump Gunakan Kode Nuklir

gedung-putih-bantah-rumor-trump-gunakan-kode-nuklir . (net)

Tridinews.com - Rumor yang menyebut Presiden Donald Trump mencoba menggunakan kode nuklir saat rapat terkait Iran langsung dibantah oleh Gedung Putih. Klaim tersebut dinilai tidak berdasar dan tidak didukung bukti kredibel.

Isu ini bermula dari pernyataan mantan perwira Central Intelligence Agency (CIA), Larry Johnson, dalam podcast Judging Freedom pada 20 April. Ia mengklaim terjadi perdebatan sengit dalam rapat darurat di Gedung Putih pada 18 April, termasuk penolakan dari Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, terhadap perintah yang disebut berkaitan dengan kode nuklir.

Namun, laporan tersebut tidak memiliki konfirmasi independen. Sejumlah media dan pejabat menegaskan tidak ada bukti bahwa prosedur peluncuran nuklir pernah dibahas atau digunakan dalam pertemuan tersebut.

Beberapa anggota Partai Republik juga meragukan klaim itu. Senator Thom Tillis menyatakan bahwa ia memerlukan verifikasi dari berbagai sumber sebelum mempercayai informasi tersebut. Ia bahkan menyebut sulit membayangkan skenario seperti itu benar-benar terjadi.

Klaim Johnson juga bertentangan dengan sistem komando nuklir Amerika Serikat. Dalam prosedur resmi, Ketua Kepala Staf Gabungan hanya berperan sebagai penasihat dan tidak memiliki kewenangan untuk menghalangi atau mengeksekusi perintah peluncuran.

Selain itu, sistem keamanan seperti “aturan dua orang” dirancang untuk memastikan setiap perintah yang sah dari presiden sebagai panglima tertinggi dapat dijalankan sesuai prosedur ketat. Jika benar terjadi konflik seperti yang diklaim, hal itu akan mencerminkan krisis konstitusional besar, bukan sekadar perbedaan pendapat biasa.

Rekam jejak Larry Johnson juga menjadi sorotan. Ia sebelumnya pernah menyebarkan sejumlah klaim kontroversial yang telah dibantah oleh pejabat resmi, termasuk tuduhan terhadap badan intelijen Inggris dan pernyataan terkait tokoh publik.

Secara keseluruhan, rumor mengenai penggunaan kode nuklir ini tidak memiliki dasar kuat dan telah ditepis oleh pihak resmi, sehingga publik diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.

Editor: redaktur

Komentar