Tridinews.com - Harga minyak dunia melonjak tajam di tengah meningkatnya ketegangan antara Donald Trump dan pemerintah Iran terkait ancaman penutupan Selat Hormuz.
Mengutip laporan CNN International, harga minyak mentah Brent sebagai acuan global naik sekitar 1,69 persen ke level 114,09 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 2 persen menjadi 100,29 dolar AS per barel pada pembukaan perdagangan Senin (23/3/2026).
Lonjakan ini tergolong drastis jika dibandingkan dengan akhir Februari lalu, sebelum konflik memanas. Saat itu, harga Brent masih berada di kisaran 67 dolar AS, sementara WTI di level 72 dolar AS per barel.
Kenaikan harga dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat. Analis dari Goldman Sachs bahkan memperkirakan tren harga tinggi ini bisa bertahan hingga beberapa tahun ke depan jika situasi tidak segera mereda.
Ketegangan memuncak setelah Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Ia menegaskan Amerika Serikat siap menghancurkan infrastruktur energi Iran jika akses pelayaran di Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Menanggapi hal itu, Iran memberikan peringatan balik. Teheran mengancam akan menutup Selat Hormuz sepenuhnya tanpa batas waktu jika ancaman tersebut benar-benar direalisasikan. Selain itu, Iran juga membuka kemungkinan menyerang infrastruktur energi dan komunikasi milik Amerika Serikat serta Israel di kawasan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar sepertiga pasokan minyak global melewati wilayah tersebut. Gangguan di jalur ini langsung berdampak besar pada pasar energi global.
Imbasnya mulai terasa luas. Harga bahan bakar di Amerika Serikat ikut naik, dengan rata-rata bensin mencapai 3,94 dolar AS per galon—naik hampir satu dolar sejak konflik dimulai.
Menurut analis GasBuddy, Patrick De Haan, harga bensin berpotensi menembus 4 dolar AS per galon dalam waktu dekat. Ia juga mengingatkan bahwa pemulihan harga tidak akan terjadi cepat meski konflik berakhir.
“Pasar global membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali stabil,” ujarnya.
Tak hanya sektor energi, pasar saham juga ikut tertekan. Indeks utama di Wall Street dibuka melemah, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak konflik yang semakin meluas.
Situasi ini menunjukkan bahwa krisis di Timur Tengah bukan sekadar konflik regional, tetapi telah menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global, terutama dalam hal pasokan energi dan tekanan inflasi.
Harga Minyak Dunia Melonjak usai Ancaman Hormuz
. (net)