Trump Ancam Hancurkan Listrik Iran Jika Hormuz Ditutup

trump-ancam-hancurkan-listrik-iran-jika-hormuz-ditutup . (net)

Tridinews.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan melontarkan ancaman keras terkait penutupan Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social, Sabtu (21/3/2026), Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Jika tidak, AS mengancam akan menghancurkan infrastruktur pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.

“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka,” tulis Trump.

Meski tidak merinci target spesifik, ancaman ini menandai eskalasi serius dalam konflik yang sudah berlangsung sejak akhir Februari. Sebelumnya, Trump sempat menyebut bahwa serangan ke fasilitas listrik dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi warga sipil, namun kini retorikanya semakin keras.

Dari pihak Iran, respons langsung disampaikan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan menahan diri jika infrastrukturnya diserang.

“Iran akan menunjukkan nol pengekangan jika diserang,” tegasnya.

Ketegangan ini tak lepas dari kondisi Selat Hormuz yang saat ini praktis tertutup bagi sebagian besar pelayaran internasional. Jalur ini merupakan salah satu urat nadi energi dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewatinya.

Penutupan selat tersebut telah memicu lonjakan harga energi di berbagai negara dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Banyak negara kini terpaksa mencari jalur alternatif atau mengandalkan cadangan energi untuk menjaga stabilitas pasokan.

Di tengah situasi ini, militer AS juga mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas Iran yang dianggap mengancam keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk.

Lebih dari 20 negara sekutu dilaporkan menyatakan dukungan untuk membuka kembali Selat Hormuz, menunjukkan bahwa konflik ini tidak lagi sekadar urusan bilateral, melainkan sudah berdampak luas pada stabilitas ekonomi global.

Dengan ancaman yang terus meningkat dari kedua pihak, situasi di Timur Tengah kini berada di titik rawan, di mana satu keputusan saja bisa memicu eskalasi yang jauh lebih besar.

Editor: redaktur

Komentar