Tridinews.com - Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Dahiyeh, kawasan selatan Beirut, pada Rabu (8/4/2026). Ledakan keras terdengar di berbagai titik, disertai kepulan asap tebal yang membumbung tinggi di langit kota.
Serangan ini menjadi bagian dari operasi militer yang lebih luas, dengan klaim militer Israel telah menghantam lebih dari 100 target dalam waktu singkat di sejumlah wilayah, termasuk Lembah Beqaa dan selatan Lebanon.
Ratusan Korban Jiwa
Laporan dari lapangan menyebutkan sedikitnya 254 orang tewas, dengan 92 korban di antaranya berada di Beirut. Jumlah ini menjadikan gelombang serangan terbaru sebagai salah satu yang paling mematikan sejak konflik kembali memanas pada awal Maret.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyebut situasi ini sebagai eskalasi berbahaya yang berdampak besar pada warga sipil.
“Kami menghadapi agresi dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa,” ujarnya.
Konflik dengan Hizbullah Memanas
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah. Sejak 2 Maret lalu, kedua pihak terlibat dalam eskalasi konflik yang terus meluas.
Gelombang serangan terbaru bahkan disebut sebagai yang terbesar sejak konflik tersebut kembali memuncak.
Bayangi Gencatan Senjata AS-Iran
Situasi ini semakin kompleks karena terjadi tak lama setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan pada 7 April.
Kesepakatan itu sebelumnya diharapkan menjadi pintu masuk menuju meredanya konflik di kawasan Timur Tengah. Namun, serangan di Lebanon justru menunjukkan bahwa ketegangan masih jauh dari mereda.
Dampak Lebih Luas
Eskalasi konflik ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak global, di antaranya:
- Gangguan penerbangan internasional
- Ketidakstabilan keamanan kawasan
- Tekanan terhadap pasar energi global
Ketegangan juga diperparah oleh pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah kini semakin meluas dan berpotensi memicu dampak yang lebih besar di tingkat global.
Israel Gempur Beirut, 254 Tewas di Tengah Gencatan Senjata
. (net)