Tridinews.com - BMKG mengungkap penyebab gempa magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara pada Kamis pagi. Gempa tersebut dipicu oleh aktivitas deformasi kerak bumi di bawah laut.
Pelaksana Tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa gempa ini tergolong gempa dangkal dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
“Gempa terjadi akibat aktivitas deformasi kerak bumi, dilihat dari lokasi episenter dan kedalamannya,” ujarnya.
Gempa yang berpusat di barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Ternate, terasa cukup kuat di berbagai wilayah. Di Ternate, guncangan mencapai intensitas V-VI MMI, membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah, bahkan menyebabkan kerusakan ringan seperti retakan dinding.
Getaran juga dirasakan di sejumlah daerah lain seperti Manado dan wilayah Gorontalo dengan intensitas lebih rendah.
Hasil pemodelan BMKG sempat menunjukkan potensi tsunami dengan status siaga di beberapa wilayah, termasuk Ternate, Halmahera, Bitung, dan sebagian Minahasa. Sementara itu, status waspada diberlakukan di wilayah lain seperti Kepulauan Sangihe.
Pemantauan alat pengukur permukaan laut (tide gauge) mencatat adanya gelombang tsunami kecil di beberapa titik, antara lain:
Halmahera Barat: 0,30 meter
Bitung: 0,20 meter
Sidangoli: 0,35 meter
Minahasa Utara: 0,75 meter
Belang: 0,68 meter
Hingga pukul 06.50 WIB, BMKG juga mencatat setidaknya 11 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,5.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan hanya mengikuti informasi resmi dari kanal komunikasi yang telah terverifikasi, guna menghindari hoaks dan kepanikan berlebih.
BMKG: Gempa M7,6 di Malut Akibat Deformasi Kerak Bumi
. (net)