Iran Diduga Tebar Ranjau di Hormuz, Trump Tolak Nuklir

iran-diduga-tebar-ranjau-di-hormuz-trump-tolak-nuklir . (net)

Tridinews.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran diduga menempatkan ranjau laut baru di Selat Hormuz. Laporan tersebut muncul di tengah langkah Amerika Serikat yang mengirimkan kapal induk ketiga ke wilayah tersebut.

Menurut laporan Axios, militer AS mendeteksi aktivitas penebaran ranjau dan memantaunya secara intensif. Meski jumlah pasti ranjau tidak diungkap, situasi ini menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran global yang sangat vital.

Presiden Donald Trump merespons tegas dengan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menindak kapal Iran yang tertangkap menebar ranjau tanpa ragu. AS juga meningkatkan operasi pembersihan ranjau menggunakan drone bawah laut.

Ketegangan ini berdampak langsung pada jalur perdagangan dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati Selat Hormuz setiap hari. Gangguan di wilayah ini telah memicu kenaikan harga energi, biaya pengiriman, serta premi asuransi kapal.

Sementara itu, kapal induk USS George H.W. Bush dilaporkan telah tiba di kawasan tersebut, memperkuat kehadiran militer AS dan membuka opsi respons lebih lanjut jika konflik meningkat.

Di tengah situasi tersebut, Trump menegaskan bahwa ia tidak akan menggunakan senjata nuklir terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah berhasil dilemahkan melalui cara konvensional.

“Senjata nuklir seharusnya tidak pernah digunakan oleh siapa pun,” tegasnya.

Trump juga mengklaim bahwa meskipun Iran mungkin sempat memperkuat kembali persenjataannya selama masa gencatan senjata, AS mampu melumpuhkannya dengan cepat jika diperlukan.

Di sisi lain, Trump menyatakan keinginannya untuk mencapai kesepakatan jangka panjang dengan Iran, meski hingga kini ketegangan masih berlangsung. Ia juga menegaskan bahwa AS tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz dan belum akan membukanya sebelum ada penyelesaian.

Konflik ini turut berdampak pada ekonomi global, termasuk kenaikan harga bahan bakar. Trump bahkan mengingatkan warga AS untuk bersiap menghadapi harga energi yang lebih tinggi dalam jangka pendek.

Situasi di Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik krusial yang menentukan stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia, dengan risiko eskalasi yang masih tinggi jika tidak segera mencapai solusi diplomatik.

Editor: redaktur

Komentar