Dirut Agrinas Siap Tunda Impor 105 Ribu Pickup India

dirut-agrinas-siap-tunda-impor-105-ribu-pickup-india . (net)

Tridinews.com - Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menyatakan siap mengikuti arahan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad terkait penundaan rencana impor 105.000 unit mobil pickup dari India.

Dasco sebelumnya meminta agar kebijakan strategis tersebut ditunda sementara, mengingat Presiden Prabowo Subianto masih berada di luar negeri dan dinilai perlu membahas langsung detail rencana impor tersebut setibanya di Tanah Air.

Menanggapi hal itu, Joao menyatakan pihaknya siap mengikuti keputusan pemerintah. “Kami ikuti, manut saja. Apa pun keputusannya. Kami yang penting bekerja saja untuk negeri dan masyarakat,” ujarnya.

Untuk Operasional Kopdes Merah Putih

Agrinas merupakan BUMN yang ditunjuk menggarap pembangunan 80.000 unit gerai dan gudang Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes). Untuk mendukung operasional, perusahaan merencanakan pengadaan 105.000 kendaraan niaga berstatus Completely Built Up (CBU) dari India.

Rinciannya terdiri dari 35.000 unit pikap 4x4 dari Mahindra & Mahindra (M&M), 35.000 unit pikap 4x4 dari Tata Motors, serta 35.000 unit truk roda enam dari Tata Motors.

Sebanyak 200 unit pikap Mahindra dilaporkan telah tiba di Indonesia, dengan target mencapai 1.000 unit hingga akhir Februari 2026.

Alasan Efisiensi dan Kebutuhan Medan Sulit

Joao menjelaskan, keputusan impor diambil sebagai langkah efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia mengklaim harga kendaraan 4x4 dari India bisa hampir setengah lebih murah dibanding produk sejenis di pasar domestik.

Selain itu, kendaraan 4x4 dinilai penting untuk menjangkau medan sulit seperti area persawahan di berbagai daerah.

Ia juga menilai industri otomotif nasional belum mampu memasok puluhan ribu unit dalam waktu singkat tanpa mengganggu distribusi kendaraan lainnya.

Meski demikian, keputusan akhir mengenai kelanjutan impor tersebut kini menunggu arahan lebih lanjut setelah Presiden kembali ke Indonesia.

Editor: redaktur

Komentar