Tridinews.com - Harga minyak dunia melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel pada Minggu (8/3/2026). Ini menjadi pertama kalinya sejak 2022, ketika Invasi Rusia ke Ukraina 2022 memicu lonjakan besar harga energi global.
Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Lonjakan harga dipicu kekhawatiran pasar bahwa perang yang semakin meluas dapat mengganggu pasokan energi global, mengingat kawasan Timur Tengah merupakan salah satu sumber utama minyak dunia.
Harga minyak melonjak tajam
Harga minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), dilaporkan melonjak sekitar 18 persen hingga mencapai sekitar 108 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent Crude sebagai acuan pasar global juga naik sekitar 16 persen dan mendekati angka 108 dolar AS per barel.
Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022 dan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Trump: harga kecil demi keamanan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi lonjakan harga minyak melalui unggahan di media sosial Truth Social.
Menurut Trump, kenaikan harga energi saat ini merupakan dampak kecil dibandingkan tujuan menjaga keamanan global.
“Harga minyak jangka pendek, yang akan turun drastis ketika ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keselamatan dan perdamaian AS dan dunia,” tulis Trump.
Ia menegaskan bahwa langkah militer terhadap Iran bertujuan mencegah negara tersebut mengembangkan senjata nuklir.
Kekhawatiran gangguan jalur energi
Lonjakan harga minyak juga dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz.
Jalur laut strategis tersebut menjadi rute utama sekitar 20 persen pasokan minyak global yang dikirim ke berbagai negara.
Iran sebelumnya dilaporkan mengancam akan menyerang kapal tanker minyak yang melintas di wilayah tersebut jika konflik dengan Amerika Serikat dan sekutunya terus meningkat.
Ancaman itu memicu kekhawatiran besar di pasar energi global.
Harga bisa tembus 150 dolar
Para analis memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi jika konflik terus meluas atau jika pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terganggu.
Beberapa perkiraan bahkan menyebut harga minyak bisa mencapai 150 dolar AS per barel apabila jalur perdagangan tersebut benar-benar terhambat.
Kenaikan harga energi juga mulai memengaruhi pasar keuangan global. Sejumlah indeks saham di Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan tajam karena kekhawatiran bahwa lonjakan harga bahan bakar dapat memicu inflasi baru serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, harga bensin di Amerika Serikat ikut meningkat. Data terbaru menunjukkan harga rata-rata bensin naik sekitar 16 persen dalam sepekan terakhir menjadi sekitar 3,45 dolar AS per galon.
Para pengamat menilai perkembangan konflik di Timur Tengah dalam beberapa minggu ke depan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dunia. Jika ketegangan terus meningkat, pasar energi global diperkirakan menghadapi periode volatilitas yang lebih tinggi.
Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar di Tengah Konflik Iran
. (net)