Inggris Blokir AS Gunakan Pangkalan untuk Serangan ke Iran

inggris-blokir-as-gunakan-pangkalan-untuk-serangan-ke-iran . (net)

Tridinews.com - Pemerintah Inggris dilaporkan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya untuk melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil di Iran. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian London dalam menyikapi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan harian The i Paper, Inggris hanya akan memberikan izin penggunaan pangkalan militer untuk operasi yang bersifat defensif. Artinya, serangan yang menargetkan fasilitas sipil seperti jembatan atau pembangkit listrik tidak termasuk dalam kategori yang diizinkan.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa setiap permintaan dari pihak AS akan dipertimbangkan secara kasus per kasus. Keputusan akhir akan sangat bergantung pada tujuan dan jenis operasi militer yang diajukan.

Salah satu pangkalan yang menjadi sorotan adalah RAF Fairford. Pangkalan ini merupakan satu-satunya di Eropa yang mampu menampung pesawat pengebom strategis milik AS, dan sebelumnya pernah digunakan dalam operasi militer di Irak serta Yugoslavia.

Sementara itu, pernyataan dari Donald Trump kembali memicu ketegangan. Ia sebelumnya mengancam akan menghancurkan berbagai infrastruktur vital Iran—termasuk pembangkit listrik, kilang minyak, hingga fasilitas desalinasi—jika kesepakatan damai tidak tercapai dan jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak segera dibuka.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran sendiri terus memanas sejak serangan gabungan dilancarkan pada akhir Februari. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa di pihak sipil. Iran kemudian membalas dengan menargetkan wilayah Israel dan pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah, termasuk Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Dampak konflik ini terasa luas, terutama setelah aktivitas pelayaran di Selat Hormuz—jalur penting distribusi minyak dan gas dunia—terhenti total. Kondisi ini mendorong kenaikan harga energi di berbagai negara dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Meski begitu, laporan ini masih bersumber dari Sputnik sehingga perlu dicermati dengan hati-hati dan menunggu konfirmasi lebih lanjut dari sumber resmi lainnya.

Editor: redaktur

Komentar