Tridinews.com - China menegaskan tidak pernah menyuplai senjata ke Iran, sekaligus menolak tuduhan yang menjadi dasar ancaman tarif tambahan dari Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut laporan terkait keterlibatan China dalam pasokan senjata ke Iran sebagai “tidak benar” dan tidak berdasar.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan hingga 50 persen terhadap barang-barang asal China apabila terbukti ada dukungan senjata untuk Iran. Beijing menilai kebijakan tersebut tidak tepat dan akan memicu tindakan balasan jika benar diberlakukan.
Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, China juga menyoroti situasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Pemerintah China menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi, terutama setelah gencatan senjata sementara dinilai masih rapuh.
China menegaskan bahwa satu-satunya jalan penyelesaian adalah melalui dialog politik dan diplomatik, serta mendorong dilanjutkannya perundingan damai untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah. Beijing juga memperingatkan bahwa tindakan seperti blokade jalur laut strategis di Selat Hormuz dapat memperburuk situasi dan mengganggu stabilitas energi global.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan terus meningkat setelah konflik berkepanjangan antara Iran, AS, dan Israel sejak akhir Februari 2026. Laporan menyebutkan konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 1.400 orang serta menyebabkan kerusakan ekonomi besar, termasuk estimasi kerugian Iran mencapai ratusan miliar dolar AS.
Selat Hormuz sendiri tetap menjadi titik krusial karena menjadi jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi berdampak luas pada pasar energi global.