Tridinews.com - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak mencakup konflik di Lebanon. Ia menyebut anggapan sebaliknya sebagai “kesalahpahaman”.
Menurut Vance, sejak awal tidak pernah ada komitmen bahwa penghentian permusuhan akan melibatkan situasi di Lebanon. Fokus utama kesepakatan hanya pada Iran dan sekutu AS di kawasan.
“Saya pikir ini hanya kesalahpahaman yang wajar. Kami tidak pernah menjanjikan bahwa Lebanon akan termasuk dalam gencatan senjata,” ujarnya.
Trump: Konflik Lebanon Terpisah
Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga menegaskan bahwa konflik di Lebanon merupakan persoalan terpisah, terutama karena keterlibatan Hizbullah.
Menurut Trump, dinamika di Lebanon tidak termasuk dalam ruang lingkup kesepakatan dengan Iran, sehingga tidak bisa disamakan dengan konflik lain yang sedang diupayakan mereda.
Israel Tingkatkan Serangan
Di tengah pernyataan tersebut, Pasukan Pertahanan Israel dilaporkan melancarkan salah satu serangan terbesar terhadap target Hizbullah di Lebanon sejak eskalasi terbaru dimulai.
Langkah ini semakin memperumit situasi di kawasan, karena berpotensi memicu reaksi lanjutan dari pihak-pihak yang terlibat.
Iran Ancam Tarik Diri
Di sisi lain, media Iran melaporkan bahwa Teheran mempertimbangkan untuk menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata jika serangan Israel ke Lebanon terus berlanjut.
Selain itu, Iran juga dikabarkan menangguhkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global.
Situasi Masih Rentan
Perbedaan persepsi antara AS dan Iran terkait cakupan gencatan senjata menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah masih jauh dari stabil.
Dengan konflik yang saling terkait namun tidak sepenuhnya terintegrasi, risiko eskalasi lebih luas tetap terbuka, terutama jika serangan dan balasan terus berlanjut di berbagai titik kawasan.
AS Tegaskan Gencatan Senjata Iran Tak Berlaku di Lebanon
. (net)