Tridinews.com - Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon pada Rabu (4/2) malam. Dalam percakapan tersebut, keduanya membahas hubungan bilateral, termasuk isu sensitif terkait Taiwan yang kembali menjadi sorotan di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.
Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China, Xi menegaskan bahwa Taiwan merupakan persoalan paling penting dan sensitif dalam hubungan China dan Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China dan menegaskan komitmen Beijing untuk menjaga kedaulatan serta keutuhan wilayahnya.
Xi juga meminta Amerika Serikat agar bersikap bijaksana dalam menangani kebijakan penjualan senjata ke Taiwan. Permintaan ini muncul setelah Washington diketahui menjual senjata dan peralatan militer kepada Taiwan senilai lebih dari 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp183,9 triliun pada Desember 2025, yang memicu protes keras dari Beijing.
Pembicaraan melalui telepon ini merupakan komunikasi lanjutan setelah keduanya sempat berbicara pada November 2025, sekitar sebulan setelah pertemuan langsung di Busan, Korea Selatan. Xi menilai pertemuan tersebut telah membantu menetapkan arah hubungan kedua negara dan mendapat respons positif dari masyarakat internasional.
Menurut Xi, China dan Amerika Serikat memiliki kepentingan bersama sekaligus kekhawatiran masing-masing. Namun, ia menegaskan Beijing selalu berupaya menepati komitmen yang telah disampaikan.
Ia menambahkan bahwa jika kedua negara mengedepankan prinsip kesetaraan, saling menghormati, serta kerja sama yang saling menguntungkan, maka perbedaan yang ada tetap dapat dikelola dengan baik.
Xi juga menyinggung agenda besar yang akan dihadapi kedua negara pada 2026. China akan memulai Rencana Lima Tahun ke-15 sekaligus menjadi tuan rumah Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC. Sementara itu, Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 serta memperingati 250 tahun kemerdekaannya.
Xi berharap momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat dialog, memperluas kerja sama, serta membangun kepercayaan antara kedua negara.
Sementara itu, Trump menyampaikan bahwa hubungan Amerika Serikat dan China merupakan salah satu hubungan bilateral paling penting di dunia. Ia mengaku memiliki hubungan yang baik dengan Xi dan menghormati kepemimpinannya.
Trump juga menilai kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara berjalan positif. Ia menyatakan keinginannya untuk terus memperdalam kerja sama serta mendorong stabilitas hubungan bilateral selama masa pemerintahannya.
Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat memahami sikap China terkait Taiwan, sekaligus berharap kedua pihak tetap menjaga komunikasi terbuka agar ketegangan tidak meningkat.
Di sisi lain, hubungan Amerika Serikat dengan Taiwan juga terus berkembang. Pada Januari 2026, Washington mengumumkan kesepakatan dagang dengan Taiwan yang mencakup komitmen investasi sebesar 250 miliar dolar AS di sektor manufaktur semikonduktor dan teknologi di Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, tarif impor produk Taiwan ke AS diturunkan dari 20 persen menjadi 15 persen.
Selain investasi, Taiwan juga menyepakati tambahan jaminan kredit sebesar 250 miliar dolar AS untuk mendukung perusahaan kecil dalam rantai pasok industri chip agar dapat berkembang di Amerika Serikat.
Pemerintah AS menargetkan pemindahan sekitar 40 persen rantai pasok dan produksi chip Taiwan ke wilayah Amerika Serikat, mengingat Taiwan dikenal sebagai produsen chip komputer paling canggih di dunia.
Pembicaraan antara Xi dan Trump ini dinilai menjadi sinyal penting bagi stabilitas hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, terutama di tengah persaingan strategis yang terus berkembang.
Xi dan Trump Bahas Taiwan dalam Telepon Tengah Ketegangan
. (net)