Psikolog Ungkap Penyebab Gangguan Mental Siswa di Bandung

psikolog-ungkap-penyebab-gangguan-mental-siswa-di-bandung . (net)

Tridinews.com - Anggota Majelis Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) sekaligus Dosen Psikologi Unisba, M Ilmi Hatta, mengungkap sejumlah faktor utama yang memicu tingginya angka gangguan kesehatan mental pada siswa di Kota Bandung. Menurutnya, masalah emosional menjadi penyebab paling dominan, terutama yang berkaitan dengan kecemasan, kesedihan, rasa takut berlebihan, hingga gejala yang mengarah pada depresi.

Ilmi menjelaskan, dari hasil pemetaan yang dilakukan, persoalan paling banyak ditemukan justru berkaitan dengan hubungan teman sebaya. Tercatat sekitar 16 ribu kasus yang menunjukkan siswa mengalami kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

“Masalah yang paling banyak ditemukan adalah problem dengan teman sebaya, jumlahnya sekitar 16 ribu kasus,” ujar Ilmi dalam keterangannya, Minggu (8/2/2026).

Ia menyebutkan, bentuk masalah tersebut antara lain siswa sering diolok-olok, dikucilkan, hingga menjadi korban perundungan atau bullying. Kondisi ini membuat anak merasa tidak diterima, menarik diri, dan kesulitan membangun relasi sosial yang sehat di sekolah.

Selain itu, Ilmi juga menyoroti rendahnya perilaku prososial, khususnya pada siswa jenjang SMA. Sekitar 14.700 siswa tercatat memiliki kecenderungan kurang peduli terhadap orang lain dan enggan menolong sesama.

“Masalah krusial berikutnya adalah rendahnya prosocial behavior. Anak-anak menjadi kurang empati dan kurang peka terhadap lingkungan sosialnya,” jelasnya.

Masalah lain yang turut muncul adalah conduct problem atau perilaku bermasalah, seperti melanggar aturan, berbohong, sering membolos, berkelahi, hingga melakukan perundungan. Tak hanya itu, ditemukan pula gangguan hiperaktivitas dan kesulitan memusatkan perhatian, yang membuat siswa cenderung impulsif dan sulit mengendalikan diri.

Ilmi menambahkan, data tersebut merupakan potret kondisi siswa SMP di Kota Bandung berdasarkan pengukuran pada tahun 2024. Sementara untuk tahun 2025, proses pengukuran kembali telah dilakukan, namun hasilnya masih dalam tahap rekapitulasi.

Terkait penanganan di lapangan, Ilmi menegaskan bahwa intervensi tidak bisa dilakukan secara parsial. Di sekolah memang sudah ada guru bimbingan konseling (BK) sebagai pihak terdekat dengan siswa, namun peran psikolog juga sangat dibutuhkan untuk mendampingi dan memperbaiki kondisi mental anak.

“Psikolog akan bekerja sama dengan guru BK untuk melakukan pendampingan dan intervensi kepada siswa yang membutuhkan. Tujuannya agar anak lebih sejahtera secara mental, lebih gembira bersekolah, dan mampu berkonsentrasi dengan baik,” katanya.

Menurut Ilmi, penanganan tidak boleh berhenti di lingkungan sekolah. Orang tua juga perlu mendapatkan edukasi agar mampu mendampingi anak sesuai dengan tahapan perkembangan usianya.

Ke depan, Himpsi akan menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk melakukan intervensi di sekolah-sekolah. Sementara di tingkat kewilayahan, kolaborasi akan dilakukan bersama Dinas Kesehatan melalui puskesmas di setiap kecamatan.

“Kolaborasi ini penting untuk memberikan psikoedukasi kepada orang tua. Intinya, penanganan masalah kesehatan mental pelajar membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari sekolah, psikolog, pemerintah, hingga keluarga,” tegas Ilmi.

Sebagaimana diketahui, hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode Agustus–Oktober 2025 menunjukkan hampir separuh siswa di Kota Bandung terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental. Dari total 148.239 peserta didik, sebanyak 71.433 siswa atau sekitar 48,19 persen tercatat memiliki indikasi masalah kesehatan mental.

Temuan paling menonjol terjadi pada jenjang SMP/MTs sederajat, disusul SD/MI, SMA/MA, hingga SLB. Data ini menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental pelajar merupakan isu serius yang membutuhkan penanganan berkelanjutan dan kolaboratif.

Editor: redaktur

Komentar