Tridinews.com - KontraS menduga kasus penyiraman air keras terhadap aktivisnya, Andrie Yunus, merupakan bagian dari operasi intelijen yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis.
Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menyampaikan bahwa sejak awal pihaknya telah mencurigai adanya pola terorganisir dalam peristiwa tersebut.
“Dari awal kami menduga ini bagian dari operasi intelijen,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat di DPR.
Berdasarkan hasil investigasi awal, tim advokasi menemukan indikasi keterlibatan banyak pihak. Dari penelusuran rekaman CCTV dan pengumpulan bukti menggunakan metode intelijen terbuka, sedikitnya 16 orang diduga terlibat dalam aksi tersebut.
Dimas menyebut jumlah pelaku yang cukup banyak serta pola pergerakan mereka menunjukkan adanya rangkaian tindakan yang dirancang secara sistematis. Bahkan, dalam laporan internal, operasi tersebut disebut memiliki sandi khusus, yakni “Sadang”.
Menurutnya, operasi itu diawali dengan tahap perencanaan berupa penguntitan dan pemantauan terhadap korban. Aktivitas tersebut dilakukan oleh sejumlah orang tak dikenal yang kemudian diidentifikasi sebagai bagian dari jaringan pelaku.
Sementara itu, dari sisi penegakan hukum, Puspom TNI telah mengamankan empat prajurit dari BAIS TNI yang diduga terlibat. Keempatnya berinisial NDP, SL, BHW, dan ES.
Para terduga pelaku saat ini masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Kasus ini juga memicu langkah internal di tubuh TNI, termasuk pergantian jabatan Kepala BAIS sebagai bentuk tanggung jawab institusi.
Kasus ini menjadi sorotan publik karena menyangkut dugaan keterlibatan aparat dalam tindakan kekerasan terhadap aktivis, sekaligus menimbulkan pertanyaan serius terkait akuntabilitas dan transparansi penanganannya.
KontraS Sebut Penyerangan Andrie Yunus Operasi Intelijen
. (net)