Tridinews.com - Ketergantungan Eropa pada payung nuklir Amerika Serikat (AS) mulai dipertanyakan. Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat dan sikap Presiden AS Donald Trump yang dinilai konfrontatif terhadap sekutu Eropa, beberapa negara Benua Biru membuka wacana untuk mengembangkan kemampuan nuklir sendiri, termasuk potensi pembuatan bom atom sebagai langkah jangka panjang.
Selama puluhan tahun, keamanan Eropa bertumpu pada komitmen AS melalui NATO, khususnya perlindungan terhadap ancaman Rusia. Namun, kepercayaan itu mulai terkikis. Pejabat senior Eropa menyebut bahwa diskusi tentang masa depan keamanan kawasan kini bergerak ke arah strategi yang lebih radikal, dengan menekankan perlunya perlindungan Eropa baik dengan atau tanpa keterlibatan AS.
Pembahasan ini menguat setelah Trump melontarkan kritik keras terhadap negara-negara Eropa dalam forum ekonomi dunia di Davos. Retorikanya, termasuk tuntutan penguasaan Greenland, memicu kekhawatiran bahwa AS mungkin tidak lagi menjadi pelindung utama yang dapat diandalkan.
Dalam diskusi internal tingkat tinggi, Eropa menekankan pendekatan bertahap dan politis. Langkah awal yang realistis adalah memperbesar peran Prancis dan Inggris, satu-satunya negara Eropa dengan senjata nuklir resmi. Opsi yang dibahas termasuk peningkatan jumlah hulu ledak Prancis, perluasan cakupan perlindungan nuklirnya, serta penempatan sistem strategis di wilayah Eropa yang lebih luas.
Selain itu, penguatan kemampuan militer konvensional juga menjadi fokus. Peningkatan pasukan di sayap timur NATO, pertahanan udara dan rudal yang lebih baik, serta integrasi komando lintas negara diharapkan mengurangi ketergantungan langsung pada AS.
Diskusi paling sensitif adalah pengembangan kemandirian teknologi nuklir bagi negara Eropa non-nuklir. Negara-negara ini tidak membuat senjata atom secara langsung, tetapi menyiapkan kapasitas teknis dan industri yang memungkinkan mereka melakukannya jika situasi keamanan memburuk. Pendekatan ini masih berada di “zona abu-abu” hukum internasional, karena penguasaan teknologi dasar belum melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Hingga kini, diskusi Eropa lebih difokuskan sebagai upaya pencegahan dan tekanan politik, bukan keputusan untuk segera membangun bom atom. Langkah ini menandai perubahan strategi Eropa untuk lebih mandiri dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan sikap AS yang tidak menentu.
Eropa Pertimbangkan Kekuatan Nuklir Mandiri Hadapi Ketidakpastian AS
. (net)