Tridinews.com - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum tegas, sementara pejabat Iran menyerukan dialog diplomatik berbasis martabat tanpa ancaman militer.
Trump menegaskan bahwa Tehran harus memenuhi dua syarat utama untuk menghindari tindakan militer dari Washington: menghentikan ambisi nuklir dan menghentikan pembunuhan terhadap pengunjuk rasa. Ia juga menyebut armada kapal perang AS tengah bergerak ke wilayah Timur Tengah sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran. Pernyataan ini muncul di tengah protes domestik besar-besaran di Iran, yang telah menewaskan ribuan warga sipil.
Merespons ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negosiasi hanya mungkin dilakukan secara adil dan setara, bukan di bawah bayang-bayang ancaman militer. Iran menolak menjadikan program pertahanan dan misilnya sebagai subjek pembicaraan, sambil tetap bersiap menghadapi kemungkinan konflik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menambahkan bahwa Tehran mengejar diplomasi yang saling menghormati dan berbasis martabat. Ia menekankan Iran tidak ingin memulai perang dan berupaya mencegah konflik yang mengancam keamanan regional.
Negara-negara regional, termasuk Turki, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Saudi Arabia, menyerukan pengekangan eskalasi. Saudi Arabia secara publik meminta kedua pihak menahan diri demi stabilitas kawasan. Namun, dinamika strategis di balik layar antara Riyadh dan Washington menunjukkan kompleksitas yang tinggi.
Para analis menyoroti risiko gangguan di Selat Hormuz, jalur ekspor minyak strategis, yang dapat memengaruhi harga energi global dan perekonomian negara-negara pengimpor minyak. Petinggi militer Iran menegaskan kesiapan angkatan bersenjatanya, termasuk kemampuan misil yang dapat menjangkau basis AS di negara-negara Teluk.
Situasi ini menciptakan ketegangan retoris yang tinggi antara kedua negara, dengan potensi implikasi besar bagi stabilitas regional dan pasar energi dunia.
Trump Ultimatum Tehran Sementara Iran Serukan Diplomasi Bermartabat
. (net)