Tridinews.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan peringatan keras agar Teheran segera merundingkan perjanjian nuklir baru, atau menghadapi risiko serangan militer langsung. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.
Trump menegaskan bahwa waktu bagi Iran untuk memilih jalur diplomasi semakin sempit. Melalui unggahan di Truth Social pada 28 Januari 2026, ia memperingatkan bahwa jika Iran menolak negosiasi yang “adil dan merata”, AS siap melancarkan serangan yang lebih destruktif dibanding operasi sebelumnya. Armada tempur AS, dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln, telah dikerahkan ke kawasan sebagai bentuk kesiapan militer. Trump menegaskan militer AS kini “siap dan mampu” bertindak cepat dan keras bila diperlukan.
Pemerintah Iran menolak tekanan ini. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menekankan bahwa diplomasi di bawah ancaman militer tidak akan efektif. Ia menyatakan, negosiasi hanya mungkin jika ancaman dan tuntutan tidak logis dihapus. Militer Iran memperingatkan setiap serangan AS akan dianggap sebagai awal perang dan menegaskan akan membalas dengan serangan “belum pernah terlihat sebelumnya”, yang berpotensi menargetkan aset strategis sekutu AS di kawasan.
Trump dilaporkan merasa percaya diri dengan strateginya. Kepercayaan ini didasarkan pada sejumlah tindakan masa lalu yang dianggap sukses, seperti penarikan AS dari kesepakatan nuklir 2018, pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani pada 2020, dan serangan bom bunker buster tahun lalu. Senior Fellow Carnegie Endowment for International Peace, Karim Sadjadpour, menyebut Trump yakin keputusan yang diambilnya tepat karena rezim Iran dianggap berada dalam posisi lemah.
Salah satu pemicu utama ketegangan adalah tindakan keras Iran terhadap demonstran domestik. Laporan pejabat kesehatan di Iran menyebut jumlah korban jiwa bisa mencapai lebih dari 30.000 orang, jauh melebihi estimasi awal. Trump sebelumnya menegaskan bahwa pembunuhan terhadap demonstran merupakan “garis merah” yang dapat memicu balasan militer AS.
Negara-negara tetangga di Teluk, termasuk Arab Saudi, menunjukkan sikap kontras: secara publik menyerukan pengekangan eskalasi untuk mencegah gelombang pengungsi, namun secara privat banyak yang merasa terancam oleh Iran dan tidak keberatan jika kekuatan rezim Teheran dilemahkan.
Ketegangan ini menandai babak baru dalam hubungan AS–Iran, dengan potensi dampak signifikan bagi stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Trump Ancam Serangan Lebih Dahsyat, Iran Siap Membalas
. (net)